- Algoritma platform digital mampu memetakan perilaku dan emosi anak secara detail yang berisiko memicu ketergantungan serta paparan konten berbahaya.
- Anak di bawah usia 16 tahun menjadi kelompok paling rentan terpapar konten negatif seperti judi online, radikalisme, dan pornografi.
- Pemerintah Indonesia menerapkan PP Tunas untuk mewajibkan verifikasi usia serta menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak.
Suara.com - Di era digital saat ini, ancaman terhadap anak tidak lagi hanya datang dari dunia nyata. Tanpa disadari, algoritma di platform digital justru bisa memahami kebiasaan hingga kelemahan anak, bahkan lebih cepat dibanding orang tua sendiri.
Fenomena ini menjadi sorotan serius dalam penerapan PP Tunas, regulasi terbaru yang bertujuan melindungi anak-anak di ruang digital Indonesia.
Algoritma Media Sosial Bisa “Membaca” Anak
Platform digital modern bekerja dengan algoritma canggih yang terus mempelajari perilaku pengguna. Setiap aktivitas, mulai dari scroll, jeda menonton, hingga reaksi emosional, dikumpulkan untuk menentukan konten berikutnya.
Menurut Alfons Tanujaya, kondisi ini bukan hal sepele.
“Algoritma mempelajari kebiasaan, kelemahan, dan pola emosi anak lebih detail dan lebih cepat dari yang bisa dilakukan orang tua,” ujarnya kepada Suara.com, Jumat (3/4/2026).
Ia menegaskan bahwa platform digital tidak bersifat netral, melainkan dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna.
“Algoritma mereka belajar dari setiap interaksi dan menggunakannya untuk memaksimalkan waktu layar,” tambahnya.
Anak di Bawah 16 Tahun Jadi Target Rentan
Baca Juga: Pemerintah Panggil Google dan Meta agar Patuhi PP TUNAS
Kelompok usia di bawah 16 tahun disebut paling rentan dalam ekosistem digital. Mereka belum memiliki kemampuan untuk memilah konten secara kritis.
Akibatnya, anak-anak berisiko tinggi terpapar hoaks dan fake news, konten radikalisme, judi online, dan pornografi.
Jika dibiarkan, paparan ini dapat berdampak panjang terhadap perkembangan mental dan pola pikir generasi muda Indonesia.
Langkah Indonesia lewat PP Tunas bukan tanpa alasan. Sejumlah negara telah lebih dulu menerapkan regulasi ketat, seperti Australia melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, Uni Eropa dengan Digital Services Act (DSA), dan Inggris melalui Online Safety Act.
Kini, Indonesia menjadi salah satu negara non-Barat yang aktif mengambil langkah perlindungan digital bagi anak.
PP Tunas: Bukan Larangan, Tapi Perlindungan
Berita Terkait
-
TikTok Perketat Keamanan Anak di Indonesia, Siap Patuhi PP Tunas 2026 dengan Teknologi AI Canggih
-
Terpopuler: Baru 2 Platform Patuhi PP Tunas, Pilihan HP Android yang Terbukti Awet
-
PP Tunas Berlaku, Pemerintah Ancam Sanksi Platform Digital yang Tak Patuh
-
PP Tunas Berlaku 28 Maret 2026, Baru X dan Bigo Live yang Patuh
-
Google dan YouTube Dukung PP Tunas, Tolak Larangan Akses Anak, Dorong Keamanan Digital Berbasis AI
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi