- Kementerian Ekraf meluncurkan program BDT 2026 di Jakarta pada 14 April 2026 untuk meningkatkan kapasitas digital pegiat ekonomi kreatif.
- Program ini menyediakan kurikulum global hasil kolaborasi dengan Dicoding guna mengatasi kesenjangan keterampilan digital dan penguasaan teknologi AI.
- Sebanyak 2.200 peserta akan dilatih menguasai kecerdasan artifisial untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing di 17 subsektor ekonomi kreatif.
Suara.com - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) meluncurkan program Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026. Program ini menyasar pegiat ekonomi kreatif untuk meningkatkan kapasitas digital berbasis kebutuhan industri.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf Muhammad Neil El Himam menyebut program ini dirancang untuk menjawab kesenjangan keterampilan digital.
“Program Badan Ekraf Digital Talent dirancang untuk menjawab persoalan skill gap and talent gap sekaligus memastikan para peserta memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi, termasuk AI," ujar Neil di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Program BDT 2026 mengusung pelatihan berbasis kurikulum global yang dikembangkan Dicoding. Peserta akan mendapatkan pembelajaran teknis dan non-teknis melalui sistem daring yang fleksibel.
Pemerintah menilai kebutuhan peningkatan keterampilan digital semakin mendesak.
Dalam Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2025, sekitar 36 persen sumber daya manusia Indonesia membutuhkan pelatihan baru.
“Dengan semua potensi yang Indonesia punya, kita bisa menjadi pemimpin di Asia Tenggara dalam mengakselerasi kemampuan terhadap AI untuk produktivitas. Kami sangat berharap BDT 2026 dapat melahirkan talenta kreatif yang unggul dan berdaya saing dalam penguasaan AI sehingga semakin produktif untuk berkarya memajukan 17 subsektor ekonomi kreatif Indonesia,” tambah Neil.
Di sisi lain, industri teknologi menilai penguasaan AI menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas. Kolaborasi antara pemerintah dan platform digital dinilai dapat mempercepat pengembangan talenta nasional.
CEO Dicoding Narendra Wicaksono menyebut program ini melanjutkan kerja sama jangka panjang dengan pemerintah.
“Dicoding menjadi sebuah lembaga pembelajaran yang memiliki misi bagaimana mengembangkan talenta Indonesia pada skala global. Selama 11 tahun Dicoding berada dalam industri, ada 1,3 juta developer yang sudah terdaftar dan belajar dalam platform, sekitar 879 ribu di antaranya menerima beasiswa,” ungkap Narendra.
Baca Juga: Wamen Bantah Danai Film Merah Putih One for All, Medsos Ekraf Pernah Singgung Potensi Kolaborasi
Ia juga menyoroti tingginya adopsi AI di kalangan pengembang. Penggunaan AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja secara signifikan di berbagai sektor.
“Hasil survei Dicoding menyebut 86 persen developer sudah menggunakan AI dan 94 persen developer di antaranya sudah merasakan lonjakan produktivitas. Dicoding menyambut positif inisiatif BDT 2026 yang akan melatih peserta untuk menyederhanakan proses kerja menuju utilisasi AI yang lebih terukur dan berdampak meningkatkan portofolio profesional mereka,” lanjut Narendra.
Program BDT 2026 membuka pendaftaran bagi 2.200 peserta. Materi pelatihan mencakup penggunaan AI untuk produktivitas, pemilihan alat digital, hingga teknik prompt engineering.
COO Dicoding Dimas Catur Wibowo menyebut program ini dirancang berbasis kebutuhan industri.
“Program BDT 2026 merupakan inisiatif strategis untuk mencetak talenta digital yang mampu menguasai AI dan mendorong produktivitas tanpa batas. Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung melalui kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri,” ungkap Dimas.
Berita Terkait
-
WOOK Group Investasi Talenta Digital Lewat Beasiswa
-
Telkom Gandeng Palo Alto Networks, Siapkan Talenta Muda Hadapi Ancaman Siber Masa Depan
-
Pemerintah Susun Standar Nasional Baru Pelatihan UMKM dan Ekraf
-
Menteri Ekonomi Kreatif: Dukungan Swasta Vital untuk Industri Kreatif Indonesia Go Global!
-
DigiHack 2025: Telkom Dorong Kreativitas Talenta Digital Lewat Solusi AI Masa Depan
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Snapdragon C Resmi Diumumkan, Prosesor Baru Qualcomm untuk Laptop Murah, Baterai Tahan Seharian
-
Viral Game Simulasi Kereta Buatan Indonesia Banjir Pujian di Jepang, Grafis Menawan!
-
Deretan Fitur Ugreen EchoBuds Magic, Lengkap dengan Kelebihan dan Kekurangannya
-
Asus TUF Gaming F16 dan A16 Resmi Pakai RTX 50-Series, Tangguh Berstandar Militer
-
Tablet Apa yang Cocok untuk Pelajar? 5 Pilihan Tab Rp1 Jutaan dengan Spek Dewa dan Baterai Badak
-
India 'Buang Muka' dari Sawit Indonesia, Harga Referensi CPO Juni 2026 Terkoreksi 1,91 Persen
-
Redmi Headphones Neo Lolos Sertifikasi Komdigi, Usung Hi-Res dan Baterai Tahan Lama
-
Hacker Gunakan Kode QR Teks untuk Kelabuhi Email Security, Ini Cara Kerjanya
-
Gunakan Snapdragon X2, Baterai Acer Swift Spin 14 AI Diklaim Tahan Seharian
-
Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED