- Kaspersky melaporkan bahwa hubungan digital yang masih terikat setelah perpisahan berisiko memicu penguntitan siber berbahaya.
- Pengguna harus melakukan audit akun, memutuskan perangkat asing, dan memakai kata sandi unik demi keamanan.
- Pencabutan akses layanan finansial, penyimpanan awan, dan perangkat pintar diperlukan untuk mengembalikan kedaulatan data.
Suara.com - Di era hiper-konektivitas, berakhirnya sebuah hubungan asmara tidak lagi sesederhana memindahkan barang dari rumah bersama. Tantangan terbesar justru terletak pada "tali pusar digital" yang tetap terhubung, mulai dari kata sandi Netflix yang sama, akses cloud foto bersama, hingga kontrol perangkat Smart Home.
Tanpa mitigasi yang tepat, jejak digital ini sering kali bertransformasi menjadi celah vulnerabilitas yang memungkinkan terjadinya penguntitan siber (cyberstalking).
Privasi digital pasca-perpisahan kini menjadi isu krusial dalam keamanan siber personal, di mana data bukan lagi sekadar memori, melainkan instrumen kendali yang berbahaya.
Fenomena ini sering kali diabaikan hingga muncul dampak nyata. Kaspersky menyoroti bahwa banyak individu yang tetap terhubung secara digital meski secara emosional telah berpisah.
Contoh ekstrem yang sering ditemukan adalah penggunaan layanan reservasi restoran atau riwayat pemesanan transportasi daring untuk melacak pergerakan mantan pasangan secara real-time. Ini bukan sekadar kecanggungan sosial, melainkan pelanggaran privasi data yang serius.
Transformasi Privasi: Dari Berbagi ke Kedaulatan Digital
Langkah pertama dalam melakukan "Digital Breakup" adalah melakukan audit total terhadap sesi aktif pada seluruh platform media sosial dan email.
Inovasi fitur Multi-Device Management pada aplikasi modern kini memungkinkan pengguna untuk memutus akses perangkat asing secara paksa dari jarak jauh.
Kaspersky menekankan bahwa penggunaan Password Manager menjadi teknologi kunci untuk memutus ketergantungan pada kata sandi "nostalgia" (seperti tanggal jadian atau nama peliharaan bersama) yang mudah ditebak.
Baca Juga: Indonesia Kekurangan Talenta Siber, ITSEC Asia dan PT INTI Siapkan Solusinya
Dengan beralih ke kredensial unik yang dihasilkan algoritma, pengguna membangun benteng pertahanan yang mustahil ditembus oleh pihak yang paling mengenal mereka sekalipun.
“Fase pasca-selesai dari sebuah hubungan tidak secara otomatis memutuskan ikatan digital Anda, akses apa pun yang Anda berikan satu sama lain tetap menyala secara aktif sampai seseorang mematikannya secara manual. Sebagai pengguna, kita harus tetap mengutamakan kewaspadaan dan menerapkan kebersihan digital bahkan di ruang lingkup pribadi sekalipun,” tegas pakar keamanan dari Kaspersky.
Mitigasi Stalkerware dan IoT: Mengamankan Ekosistem Privat
Salah satu ancaman paling canggih yang diidentifikasi adalah Stalkerware, perangkat lunak yang dipasang secara diam-diam untuk memantau aktivitas ponsel.
Inovasi teknologi keamanan siber kini telah menghadirkan fitur khusus seperti "Who’s Spying on Me" yang mampu mendeteksi aplikasi pelacak yang tersembunyi di balik sistem operasi Android.
Selain itu, akses terhadap ekosistem Smart Home seperti kamera CCTV, bel pintu pintar (video doorbell), hingga pelacak GPS kendaraan harus segera dicabut.
Berita Terkait
-
Riset : Bahaya Pelecehan Digital di Asia Pasifik, Lebih dari Separuh Korban Alami Trauma
-
Keamanan Siber Jadi Prioritas Bisnis, ITSEC Asia dan BSSN Perkuat Kesiapan Organisasi
-
Dari Cloud hingga AI, Lintasarta Siapkan Fondasi Digital Baru untuk Bisnis Indonesia
-
182 Serangan Siber per Detik Menghantam Indonesia, ITSEC Asia Soroti Ancaman Digital
-
AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Bulog Catat Penyerapan 3,5 Juta Ton Setara Beras, Perkuat Cadangan Pangan Nasional
-
Sebut Pramono 'Asbun', Waketum PSI: Prabowo dan Surya Paloh Bukti Sukses Keluar dari Partai Lama
-
Dari Casual sampai Formal, 4 Ide Outfit Minimalist Classy ala Roh Yoon Seo
-
Hari Anak Nasional: Perjuangan Veronika Reni dan Dukungan PNM Mekaar Wujudkan Prestasi Sang Anak
-
Kulit Kuning Langsat Jangan Asal Pilih! Ini 2 Warna Cushion Skintific Terbaik Sesuai Review
-
Review Leave No One Behind: Drama Laga Kepolisian Berantas Kejahatan TPPO!
-
Dorong UMKM Naik Kelas, Pelatihan Ekspor BRI Peduli Sukses Antar Usaha Lokal ke Pasar AS
-
Sunscreen Scarlett Mana yang Water Based? Ini Varian dengan Formula Ringan dan Cepat Meresap
-
Lucky Girl Syndrome: Motivasi Positif atau Harapan yang Terlalu Tinggi?
-
Transaksi Saham Melonjak! Volume Perdagangan BEI Melejit 66,88% dalam Sepekan