- CrowdStrike melaporkan peretas Korea Utara mencuri aset digital senilai 2 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025.
- Serangan siber terhadap lembaga keuangan global meningkat 43 persen akibat pemanfaatan kecerdasan buatan untuk penipuan identitas.
- Kelompok spionase siber asal China aktif menargetkan institusi keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Brasil.
Suara.com - Perusahaan keamanan siber CrowdStrike mengungkap fakta mengejutkan mengenai meningkatnya ancaman terhadap industri keuangan global.
Dalam Laporan Lanskap Ancaman Jasa Keuangan 2026, perusahaan tersebut mencatat kelompok peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara berhasil mencuri aset digital senilai lebih dari 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun sepanjang 2025.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini menjadi senjata utama para pelaku kejahatan siber untuk mempercepat serangan, menyamar sebagai identitas tepercaya, hingga menembus sistem pertahanan organisasi keuangan.
Selain Korea Utara, aktivitas spionase siber yang terkait dengan China juga mengalami peningkatan signifikan dan menyasar lembaga keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Serangan ke Lembaga Keuangan Melonjak Drastis
CrowdStrike mencatat serangan langsung terhadap institusi keuangan meningkat 43 persen secara global dalam dua tahun terakhir. Di Amerika Utara, lonjakan bahkan mencapai 48 persen.
Para pelaku ancaman kini semakin sering memanfaatkan identitas digital yang tampak sah, layanan cloud, serta aplikasi Software as a Service (SaaS) untuk menghindari sistem keamanan tradisional yang masih digunakan banyak organisasi.
Berdasarkan pemantauan terhadap lebih dari 280 kelompok ancaman siber di seluruh dunia, CrowdStrike menemukan bahwa sektor jasa keuangan menjadi salah satu target utama para penjahat digital.
Korea Utara Catat Rekor Pencurian Kripto Terbesar
Baca Juga: AS Perketat Larangan Chip AI China, Huawei hingga Alibaba Makin Gencar Kembangkan Alternatif Nvidia
Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah meningkatnya aksi pencurian aset digital yang dilakukan kelompok-kelompok peretas Korea Utara.
Sepanjang 2025, nilai pencurian aset digital meningkat 51 persen dibanding tahun sebelumnya dan mencapai total 2,02 miliar dolar AS.
Kelompok PRESSURE CHOLLIMA disebut bertanggung jawab atas salah satu pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat. Mereka berhasil menguras aset senilai 1,46 miliar dolar AS melalui malware trojan yang disebarkan lewat celah keamanan pada rantai pasok perangkat lunak.
Sementara itu, GOLDEN CHOLLIMA menggunakan modus perekrutan kerja palsu untuk mengelabui korban, mengakses lingkungan cloud, dan mencuri dana kripto dari perusahaan fintech di Asia Tenggara serta Kanada.
AI Digunakan untuk Menyamar dan Menipu Korban
CrowdStrike juga menemukan bahwa kelompok peretas Korea Utara kini semakin agresif memanfaatkan teknologi AI untuk memperluas operasi mereka.
Berita Terkait
-
Penjualan Kacamata Pintar Google Diprediksi Tembus 2 Juta, Tantang Dominasi Meta
-
Smart Classroom Berbasis AI Mulai Masuk Sekolah Indonesia, Pembelajaran Digital Makin Canggih
-
Asus ROG Siapkan Laptop Gaming AI Terbaru di Indonesia, Ada Zephyrus Duo Dual Screen dan RTX 5090
-
Indosat Gandeng Kemnaker dan Wadhwani, Siapkan 1 Juta Talenta Digital AI di Indonesia
-
Axioo Gandeng Primacom Bangun Infrastruktur AI Lokal, Dorong Kedaulatan Data Indonesia
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Asus Luncurkan Laptop ProArt P16 dan ProArt P14 yang Ditenagai oleh Superchip Nvidia RTX Spark
-
Daftar HP Samsung Ini Terancam Tidak Kebagian One UI 8.5, Galaxy S22 hingga Z Fold 4 Masuk?
-
Terpopuler: Baterai Realme C100i Awet 6 Tahun, Top 3 HP Kamera Terbaik Harga Rp2 Jutaan
-
4 Rekomendasi HP Baterai Jumbo dengan Fitur Reverse Charging, Bisa Jadi Powerbank
-
56 Kode Redeem FF Max Terbaru 1 Juni 2026: Raih Skin MAG-7, SG2, dan Bundel Eclipse
-
5 Pilihan Smart TV 32 Inch Terbaik Harga Rp2 Jutaan, Canggih dengan Fitur Modern
-
Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik Menurut Review Pengguna
-
5 HP Midrange Paling Dicari Juni 2026: Chip Kencang, Skor AnTuTu 2,1 Juta Poin
-
Budget Rp3 Juta Dapat iPhone Apa? Ini 4 Pilihan HP yang Masih Sangat Layak Pakai di 2026
-
7 Kelebihan dan Kekurangan Panasonic LUMIX L10, Tawarkan Fitur Zoom Ciamik