- Riset Kaspersky terhadap 7.600 responden di 19 negara menunjukkan pelecehan digital memicu trauma psikologis serta gangguan sosial nyata.
- Dampak negatif pelecehan digital mencakup rusaknya karier, pendidikan, hubungan pribadi, hingga risiko ancaman fisik di dunia nyata.
- Banyak korban tidak mencari bantuan karena minimnya pemahaman serta kebingungan mengenai prosedur pelaporan dan langkah penanganan yang tepat.
Suara.com - Kasus pelecehan digital atau technology-facilitated abuse semakin menjadi ancaman serius di era digital.
Tidak hanya berdampak pada aktivitas di dunia maya, penyalahgunaan teknologi kini terbukti mampu memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, karier, hingga pendidikan para korbannya.
Sayangnya, banyak korban masih memilih diam karena tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan terbaru Kaspersky mengenai penyalahgunaan teknologi yang melibatkan 7.600 responden dari 19 negara.
Hasil riset menunjukkan bahwa dampak pelecehan digital jauh melampaui layar perangkat, dengan mayoritas korban mengalami konsekuensi psikologis dan sosial yang nyata.
Di kawasan Asia Pasifik, sekitar 80 persen responden mengakui bahwa pelecehan digital dapat memicu trauma, depresi, stres berkepanjangan, hingga isolasi sosial.
Namun, pemahaman masyarakat terhadap dampak lainnya masih relatif rendah. Hanya 59 persen responden yang menyadari adanya risiko kerugian ekonomi, sementara 53 persen memahami bahwa pelecehan digital juga dapat berujung pada ancaman fisik di dunia nyata.
Padahal, dalam praktiknya, penyalahgunaan teknologi berpotensi berkembang menjadi kekerasan secara langsung, membahayakan keselamatan korban, serta menimbulkan gangguan kesehatan akibat tekanan psikologis yang berlangsung dalam jangka panjang.
Laporan tersebut juga mengungkap berbagai konsekuensi yang dialami korban setelah mengalami pelecehan digital.
Baca Juga: Musik dan Literasi Digital Berpadu di Momenta Festival 2026
Sebanyak 55 persen korban di Asia Pasifik mengaku menjadi lebih berhati-hati saat beraktivitas di internet. Sementara itu, 25 persen memilih mengurangi kehadiran mereka di ruang digital.
Dampak lainnya bahkan lebih serius. Sebanyak 18 persen korban membatasi komunikasi dengan keluarga maupun teman dekat, sekitar 12 persen mengakhiri hubungan pribadi, empat persen kehilangan atau meninggalkan pekerjaan, dan tiga persen terpaksa putus sekolah akibat tekanan yang mereka alami.
Banyak Korban Pelecehan Digital Memilih Diam
Meski dampaknya sangat besar, Kaspersky menemukan sebagian besar korban belum memanfaatkan layanan pendampingan maupun bantuan resmi.
Sebanyak 13 persen korban di Asia Pasifik mengaku tidak mengambil tindakan apa pun setelah mengalami pelecehan digital.
Fenomena serupa juga terjadi pada para saksi. Sebanyak sembilan persen responden yang mengetahui orang terdekatnya mengalami pelecehan digital memilih tidak melakukan apa pun.
Berita Terkait
-
Lenovo Bawa Solusi AI End-to-End ke Indonesia, Siap Percepat Transformasi Digital Perusahaan
-
Saat Sepak Bola Bertemu Teknologi, SSD Edisi Argentina Hadir untuk Era Konten Digital
-
Dari Konten Jadi Cuan, Kolaborasi Indosat, Adobe, dan Kemenekraf Buka Jalan Baru
-
Warung Irine Viral di TikTok, Strategi Digital Antar Usaha Kuliner Gresik Naik Kelas
-
Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
4 Tablet Murah dengan Fitur Palm Rejection, Menggambar dan Mencatat Lebih Rapi
-
Dampak Krisis Memori Global, Apple Terpaksa Menaikkan Harga MacBook dan iPad
-
Sikap Google Terhadap RUU Hak Cipta : Berisiko Hambat AI dan Ekonomi Digital Indonesia
-
8 HP Fast Charging Termurah 2026, Isi Daya Ngebut Mulai Rp1 Jutaan
-
3 Fitur HP Lipat untuk Kebutuhan Multitasking dan Produktivitas Profesional Muda
-
Galaxy Buds4 Pro Andalkan AI dan Sensor Fusion, Samsung Ungkap Rahasia Panggilan Tetap Jernih
-
Harga iPhone 18 Pro Dirumorkan Naik, iPhone Lipat Apple Bisa Tembus Rp30 Juta?
-
HP Layar Gulung Samsung Makin Dekat, Galaxy Z Slide Disebut Meluncur 2028 Berukuran 10 Inci?
-
6 HP Vivo RAM 8 GB dengan Baterai 6.000 mAh, Awet Seharian untuk Gaming hingga Kerja
-
4 Tablet RAM 8GB Rp1 Jutaan Layar Tajam dan Baterai Jumbo, Cocok Buat Anak Sekolah