Tekno / Internet
Senin, 10 Agustus 2026 | 08:12 WIB
Ilustrasi penggunaan kuota internet pada smartphone. [Unsplash]
Baca 10 detik
  • Direktur Eksekutif Catalyst Policy Works Wahyudi Djafar menyoroti keresahan masyarakat terkait fenomena kuota internet hangus yang dinilai tidak adil secara ekonomi.
  • Secara teknis kuota hangus karena masa aktif habis yang membuat operator diuntungkan karena berkurangnya beban operasional penyediaan data.
  • Wahyudi mendorong operator telekomunikasi menyediakan fitur rollover dan transparansi layanan agar sisa kuota konsumen dapat digunakan pada periode berikutnya.

Suara.com - Fenomena kuota hangus menjadi bahan pembicaraan hangat di tengah masyarakat Indonesia. Di tengah ketergantungan tinggi pada ruang digital, transparansi mengenai alur trafik dan hak ekonomi konsumen atas data yang telah dibayar kini menjadi sorotan tajam.

Direktur Eksekutif Catalyst Policy Works, Wahyudi Djafar, menyoroti kegelisahan ini sebagai isu mendasar dalam industri telekomunikasi kita. Menurutnya, pertanyaan masyarakat sangat sederhana namun menyentuh aspek keadilan ekonomi digital yang krusial.

"Pertanyaan masyarakat ini sederhana aja loh. Sisa kuota itu sebenarnya kemana sih? Ini jadi pertanyaan banyak orang yang merasa tidak adil. Orang sudah beli, tapi kok hangus," ujar Wahyudi dalam sebuah diskusi kebijakan publik.

Logika Teknikal vs Keuntungan Operator

Secara teknis, kuota internet bukanlah komoditas fisik yang bisa disimpan di gudang, melainkan alokasi lalu lintas trafik dalam rentang waktu tertentu.

Wahyudi menjelaskan bahwa saat masa aktif habis, sisa kapasitas tersebut memang tidak diberikan kepada orang lain, namun secara otomatis hangus karena durasi penggunaannya telah berakhir.

Namun, di balik penjelasan teknis tersebut, terdapat realita ekonomi yang menguntungkan penyedia layanan (provider).

Ketika konsumen gagal menghabiskan kuota yang telah dibayar, beban operasional yang harus dikeluarkan provider justru berkurang.

"Secara profit, harusnya operator untung. Karena biaya yang harus mereka keluarkan untuk menyediakan paket yang seharusnya 50 GB, ternyata tidak sampai 50 GB (yang digunakan). Itulah kenapa seharusnya tidak ada alasan untuk menaikkan tarif," tegas Wahyudi.

Baca Juga: Dilema Infrastruktur: Mengapa Akumulasi Kuota Data Bisa Memicu Kenaikan Harga Paket Internet?

Inovasi Layanan: Rollover Sebagai Solusi Adil?

Dalam lanskap teknologi telekomunikasi yang kian kompetitif, inovasi layanan seharusnya lebih memihak pada fleksibilitas konsumen.

Wahyudi menekankan pentingnya edukasi bagi pengguna untuk memahami profil konsumsi data mereka sendiri, apakah lebih banyak digunakan untuk browsing, media sosial, atau kebutuhan high-bandwidth seperti Zoom meeting.

Munculnya fitur Rollover (akumulasi sisa kuota ke periode berikutnya) disebut sebagai salah satu bentuk inovasi servis yang harusnya lebih gencar ditawarkan. Sayangnya, opsi ini seringkali tidak tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat luas.

"Pilihannya sekarang, apakah akan membeli paket non-rollover atau yang rollover. Kalau mau aman, beli paket rollover sehingga sisa kuota bisa terus digunakan di periode berikutnya. Ini adalah skema servis yang harusnya dikembangkan operator kepada konsumen," tambahnya.

Tantangan Transparansi Digital

Load More