- Samsung Electronics Indonesia menyelenggarakan kompetisi Samsung Solve for Tomorrow 2026 yang diikuti lebih dari 4.000 pendaftar dari 27 provinsi.
- Program berbasis STEM dan kecerdasan buatan ini melibatkan pelatihan intensif selama empat bulan serta menghasilkan sepuluh tim finalis terbaik.
- Tim Bryotech Alpha dan tim I-SEUNG keluar sebagai pemenang dengan menciptakan inovasi filter udara alami dan aplikasi matematika tunanetra.
Namun, penggunaan teknologi tersebut perlu disertai pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna. Salah satunya melalui design thinking, yang juga diterapkan dalam proses pengembangan solusi oleh tim Samsung R&D.
“Dengan design thinking ini sangat penting sekali, dan itu juga diterapkan oleh engineer-engineer dari Samsung R&D,” ujarnya.
Menurut Banu, pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat menjadi landasan penting agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga memiliki dampak yang nyata.
Tiga Fokus Pengembangan Inovasi
Samsung Solve for Tomorrow 2026 mengangkat tiga tema utama, yaitu Sustainability and Environment, Sport and Technology, serta Education.
Ketiganya menjadi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi penggunaan STEM dan AI dalam menjawab tantangan di bidang lingkungan, olahraga, dan pendidikan.
Hasilnya terlihat dari inovasi para pemenang tahun ini. Tim Bryotech Alpha dari SMA Negeri 81 Jakarta mengembangkan Aerospora, filter udara alami berbahan lumut, sedangkan tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menghadirkan NOVASIGHT, aplikasi yang membantu penyandang tunanetra mempelajari matematika.
Kedua inovasi tersebut menunjukkan bagaimana pengembangan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan spesifik masyarakat, termasuk persoalan lingkungan dan akses pendidikan yang lebih inklusif.
Dukungan terhadap pengembangan talenta digital juga disampaikan oleh Associate Professor Soeparto, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Ia menilai bahwa generasi muda membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan untuk mengembangkan potensi mereka melalui inovasi.
“Ketika kesempatan diberikan, pendampingan disediakan dan kepercayaan ditumbuhkan, kita menyaksikan bagaimana kegiatan-kegiatan sederhana dapat berkembang menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengarahkan penguasaan teknologi agar selaras dengan kebutuhan sosial. Menurutnya, keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Teknologi yang hebat adalah teknologi yang mampu menjawab persoalan manusia secara nyata. Kita tentu bangga apabila mahasiswa mampu menciptakan kecerdasan buatan. Namun kita akan jauh lebih bangga apabila kecerdasan buatan ini digunakan untuk membantu sesama,” katanya.
Melalui Samsung Solve for Tomorrow 2026, Samsung Electronics Indonesia berharap pengembangan kompetensi digital generasi muda dapat terus berlanjut di luar ruang kompetisi.
Reporter: Rahmatul Fatimah