Microsoft Ungkap Ancaman Siber di Era AI, Ini 5 Kebiasaan Digital yang Harus Diubah

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:44 WIB
Ilustrasi keamanan siber. [Microsoft]
BACA 10 DETIK
  • Laporan Microsoft Digital Defense Report 2026 mencatat 73,3 persen serangan siber global melibatkan rekayasa sosial dan phishing.
  • Pelaku kejahatan siber menyasar organisasi perhotelan di Asia dan Eropa melalui kampanye email phishing Photo.zip pada Juni 2026.
  • Microsoft Defender for Office 365 mendeteksi lebih dari 145 juta serangan phishing berbasis QR code antara Juli 2025 hingga Juni 2026.

2. Periksa tautan dan lampiran sebelum membukanya

Logo Microsoft. [Pexels]

File yang terlihat seperti foto atau dokumen biasa bisa menyimpan program berbahaya. Pastikan pengirim dan tujuan file sebelum mengunduhnya. Untuk reservasi atau transaksi, lebih aman membuka situs dan aplikasi resmi secara langsung.

3. Waspadai QR code dan dokumen digital

Phishing juga dapat menyebar melalui QR code, PDF, atau halaman verifikasi palsu. MDDR 2026 mencatat lebih dari 145 juta serangan phishing berbasis QR code yang terdeteksi Microsoft Defender for Office 365 selama Juli 2025 hingga Juni 2026. Periksa alamat situs sebelum memasukkan kata sandi atau informasi pribadi.

4. Lindungi identitas digital dan informasi pribadi

Akun email, media sosial, dan layanan perbankan digital merupakan bagian dari identitas yang perlu dijaga. Gunakan kata sandi kuat dan berbeda untuk setiap akun, serta hindari membagikan informasi pribadi secara berlebihan di internet.

5. Jangan hanya mengandalkan kata sandi

Aktifkan autentikasi multifaktor (multifactor authentication atau MFA) untuk menambah lapisan verifikasi saat masuk ke akun. Pengguna juga dapat memanfaatkan passkey, yang memungkinkan verifikasi melalui sidik jari, pengenalan wajah, atau PIN perangkat.

MDDR 2026 menyoroti penggunaan passkey dan MFA yang tahan terhadap phishing sebagai langkah untuk mengurangi risiko penyalahgunaan kredensial.

Keamanan Digital Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Perkembangan AI membawa banyak kemudahan, tetapi juga membuat ancaman siber semakin sulit dikenali. Karena itu, perlindungan digital tidak cukup hanya mengandalkan antivirus atau pembaruan perangkat lunak.

Pengguna perlu membiasakan diri memeriksa keaslian pesan, berhati-hati saat membuka file, membatasi informasi pribadi yang dibagikan, dan memperkuat keamanan akun.

Di era AI, keputusan sederhana saat berinteraksi dengan layanan digital dapat menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi data dan identitas pribadi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com