Rudal Houthi Guncang Riyadh Usai Serangan Mematikan Militer Saudi Saudi di Yaman

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:34 WIB
Eskalasi pertempuran Saudi dan Houthi memicu ledakan di Riyadh serta menewaskan belasan warga. (SPA)
BACA 10 DETIK
  • Serangan udara Saudi dan balasan rudal Houthi memperparah pertempuran di Yaman dan Riyadh.

  • Lebih dari 1.600 orang tewas serta ratusan ribu warga mengungsi akibat konflik berkelanjutan.

  • Kehancuran gencatan senjata memicu gangguan keamanan wilayah maritim dan penerbangan Arab Saudi.

Suara.com - Ledakan besar mengguncang wilayah Riyadh setelah militer Arab Saudi melancarkan gempuran mematikan ke kawasan pemukiman warga di Yaman barat. Escalasi pertempuran ini menandai babak baru kehancuran total gencatan senjata yang sempat bertahan selama bertahun-tahun.

Pasukan Koalisi Saudi mengklaim berhasil menangkis dua rudal balistik Houthi yang mengincar jantung kota Riyadh. Bentrokan senjata dan aksi saling serang antarkedua pihak kini merembet hingga mengancam stabilitas ekonomi serta pusat kegiatan penerbangan di Arab Saudi.

Rentetan serangan udara Saudi menghancurkan rumah-rumah warga sipil di wilayah Yaman dan memicu kehancuran infrastruktur publik yang kian parah. Krisis kemanusiaan di kawasan tersebut diprediksi bakal memburuk seiring tidak adanya iktikad politik untuk menghentikan perang.

"Pertahanan udara mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah Riyadh," kata juru bicara koalisi Turki al-Malki di X, dikutip dari AFP.

Warga setempat sempat mendengar sedikitnya delapan kali dentuman keras sewaktu pemerintah mengirimkan peringatan darurat ke ponsel masyarakat. Pemerintah mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi bahaya udara yang mengintai kota Riyadh, Kharj, dan Najran.

Kelompok Houthi terus meningkatkan intensitas gempuran hingga memicu penutupan sementara bandara Riyadh dan pembatalan berbagai acara internasional. Tindakan agresif tersebut mengancam ambisi diversifikasi ekonomi Kerajaan Arab Saudi yang tengah digalakkan.

PBB mencatat lebih dari 1.600 jiwa melayang dan 275.000 warga kehilangan tempat tinggal sejak pertempuran kembali meletus. Angka korban jiwa diperkirakan terus melonjak akibat gempuran yang kerap menyasar area padat penduduk.

"Sebagai jumlah awal, 12 warga tewas dan tiga lainnya luka kritis ketika musuh Saudi menargetkan rumah keluarga Ibrahim Saeed Mohammed Ahmed Al-Qouz dan Al-Raabi Saeed Mohammed Ahmed Al-Qouz di Al-Barah, distrik Maqbana," kata kementerian kesehatan Houthi dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis yang dibagikan oleh kantor berita Saba milik kelompok tersebut.

Sebelum gempuran ke pemukiman terjadi, belasan warga tewas akibat ledakan di area pasar dan stasiun pengisian bahan bakar. Milisi Houthi balasan melancarkan tembakan ke bandara Aden yang mengakibatkan sejumlah warga sipil terluka.

Kesepakatan damai tahun 2022 runtuh total setelah Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di Sanaa tanpa persetujuan pihak Saudi. Insiden pelanggaran wilayah udara tersebut menjadi pemicu utama meletusnya aksi saling hantam antar kedua belah pihak.

Houthi membalas pertikaian tersebut dengan mengumumkan blokade maritim serta menggempur kapal dagang dan kilang minyak Saudi. Kelompok pemberontak ini bahkan berhasil menguasai seluruh garis pantai Laut Merah dalam operasi kilat mereka.

Pemerintah Saudi merespons tindakan tersebut dengan melancarkan gelombang serangan udara secara masif ke berbagai basis pertahanan Houthi. Aksi saling balas serang ini semakin mengunci Yaman dalam krisis militer berkelanjutan.

Perang saudara di Yaman telah bergejolak sejak 2014 lalu sewaktu kelompok Houthi merebut kendali ibu kota Sanaa secara paksa. Koalisi Arab Saudi kemudian memutuskan intervensi militer satu tahun setelahnya demi membela pemerintah resmi Yaman.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com