- WhatsApp menerapkan enkripsi ujung ke ujung secara otomatis untuk melindungi seluruh isi pesan pribadi dan grup pengguna.
- Telegram menyimpan percakapan standar di server awan dan memegang kunci enkripsi sehingga isi pesan dapat dibaca.
- Telegram mengubah kebijakan privasi sejak September 2024 untuk menyerahkan alamat IP dan nomor telepon tersangka kepada pihak berwenang.
Suara.com - Aplikasi chatting telah menjadi urat nadi komunikasi digital masyarakat modern, mulai dari percakapan pribadi hingga koordinasi pekerjaan yang bersifat krusial.
Di antara jajaran platform perpesanan populer, persaingan antara WhatsApp dan Telegram selalu memicu perdebatan hangat mengenai aspek keamanan dan privasi data.
Banyak pengguna menganggap Telegram lebih aman dibanding WhatsApp karena citranya sebagai platform independen.
Namun, jika ditinjau dari sistem enkripsi bawaan dan potensi celah penyadapan, kenyataannya justru berkebalikan dari anggapan umum tersebut.
Secara teknis, percakapan standar di Telegram menyimpan risiko akses pihak luar yang lebih tinggi dibanding WhatsApp karena perbedaan mendasar dalam penerapan enkripsi bawaannya.
Sistem Enkripsi Bawaan: Keunggulan Keamanan WhatsApp
Pembeda paling krusial antara kedua platform ini terletak pada penerapan enkripsi ujung ke ujung (End-to-End Encryption atau E2EE).
WhatsApp menerapkan enkripsi E2EE secara otomatis pada seluruh bentuk percakapan individual maupun grup secara bawaan menggunakan Protokol Signal.
Laporan analisis keamanan dari Bitdefender secara tegas menjelaskan keunggulan fitur enkripsi bawaan WhatsApp ini.
"WhatsApp menerapkan enkripsi ujung ke ujung secara bawaan untuk semua percakapan dan panggilan. Ini berarti hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca pesan tersebut, dan bahkan WhatsApp sendiri tidak dapat mengesampingkan atau mengaksesnya," Bitdefender menyatakan.
Dengan enkripsi otomatis ini, pesan diacak secara langsung di perangkat pengirim dan hanya bisa didekripsi di perangkat penerima, sehingga pihak ketiga maupun server internal WhatsApp tidak memiliki kunci untuk membaca obrolan Anda.
Sebaliknya, Telegram mengusung model percakapan berbasis awan (cloud chat) pada setelan standarnya.
Analisis riset independen dari Nicolaas Spijker yang dipublikasikan pada pertengahan 2026 menegaskan fakta mengenai sistem enkripsi bawaan Telegram ini.
"Standar bawaannya adalah Obrolan Awan (Cloud Chat), yang dalam kebijakan privasinya dijelaskan disimpan di server Telegram di bawah 'enkripsi berat'... Telegram memegang kuncinya, sehingga Telegram dapat membaca pesan tersebut," Spijker memaparkan.
Karena kunci enkripsi disimpan oleh Telegram, seluruh riwayat obrolan biasa dan pesan grup tersimpan di server dalam format yang secara teknis dapat dibaca.
Keterbatasan Fitur Secret Chats dan Celah Metadata
Telegram bukannya tidak memiliki fitur enkripsi E2EE sama sekali. Platform besutan Pavel Durov ini menyediakan opsi Obrolan Rahasia (Secret Chats) yang dilengkapi enkripsi ujung ke ujung, penghancuran pesan otomatis, serta penolakan tangkapan layar.
Namun, fitur Secret Chats di Telegram memiliki keterbatasan yang cukup signifikan.
"Telegram tidak mengaktifkan enkripsi ujung ke ujung secara bawaan. Percakapan biasa di Telegram disimpan di server awan Telegram, yang berarti Telegram secara teknis memiliki akses ke pesan-pesan tersebut," Bitdefender mencatat.
Fitur Secret Chats wajib diaktifkan secara manual oleh pengguna, hanya berlaku untuk percakapan satu lawan satu, dan tidak mendukung obrolan grup sama sekali.
Di sisi lain, meskipun WhatsApp unggul dalam perlindungan isi pesan secara otomatis, platform milik Meta ini mengumpulkan metadata dalam jumlah besar.
Lembaga analisis keamanan Tuvis mengungkapkan celah ini secara mendalam.
"Di WhatsApp, enkripsi ujung ke ujung berlaku otomatis di semua percakapan... Namun, aplikasi ini tidak mengenkripsi metadata, seperti dengan siapa Anda berhubungan, stempel waktu, frekuensi penggunaan, dan durasi percakapan".
Informasi metadata ini digunakan oleh ekosistem Meta untuk memetakan perilaku dan jaringan hubungan pengguna.
Kebijakan Penyerahan Data dan Langkah Pengamanan Akun
Terkait potensi penyerahan data kepada pihak berwenang, kebijakan privasi Telegram mengalami perubahan besar sejak September 2024.
Pasal 8.3 Kebijakan Privasi Telegram secara langsung menyatakan: "Jika Telegram menerima perintah yang sah dari otoritas kehakiman terkait yang mengonfirmasi bahwa Anda adalah tersangka dalam kasus yang melibatkan kegiatan kriminal yang melanggar Ketentuan Layanan Telegram, kami akan melakukan analisis hukum terhadap permintaan tersebut dan dapat mengungkapkan alamat IP serta nomor telepon Anda kepada otoritas yang berwenang".
Guna meminimalisasi risiko penyadapan di kedua aplikasi, pengguna disarankan melakukan langkah pengamanan aktif. Selalu aktifkan fitur Verifikasi Dua Langkah (2FA) dengan PIN rahasia untuk mencegah pembajakan akun.
Bagi pengguna WhatsApp, nyalakan fitur cadangan terenkripsi ujung ke ujung (encrypted backup) agar berkas riwayat di cloud tidak terbuka. Sementara bagi pengguna Telegram, selalu manfaatkan fitur Secret Chats saat membagikan data sensitif.