wawancara / wawancara
Arsito Hidayatullah
Ahli Geodesi ITB, Heri Andreas. [Suara.com / Rin Hindryati]

Suara.com - Meneliti land subsidence sudah ia lakoni sejak masih mahasiswa. Kala itu, 2007, ia diajak sang dosen melakukan akuisisi data untuk riset penurunan tanah di pesisir pantai utara Jakarta. Seolah menjadi destiny-nya, hingga kini pun ia masih berkutat melakukannya.

Tak hanya di Pantura Jakarta, Heri Andreas, 44, pun mengamati fenomena yang ia sebut sebagai silent killer ini di sejumlah tempat lain di Nusantara, seperti Pesisir Pantai di Jawa, Pesisir Timur Sumatera, sebagian pesisir gambut wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Menurut hitungannya, ada 112 wilayah kabupaten/kota yang mengalami penurunan tanah dan banjir rob. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Model proyeksi hasil pengamatannya di lima wilayah, yakni Jakarta, Pekalongan, Demak, Semarang, dan Pontianak, menunjukkan gambaran mengerikan. Dalam kurun waktu 30 tahun, jika tidak ada aksi, maka jutaan hektar daratan bisa hilang permanen, tenggelam ke dalam laut.

Ancaman itu begitu nyata. Apalagi menurut peneliti yang demi menjaga objektivitas masih enggan menerima dana penelitian dari pemerintah ini, masih ada saja yang belum percaya fenomena penurunan tanah terjadi. Jadi, Indonesia itu unik, menurutnya.

Baca Juga: Bukan Utara dan Barat, Ini Wilayah Terbanyak Banjir di Jakarta

"Kekhawatiran kita itu, kita debat terus sekarang, nggak ada aksi... tiba-tiba hilang. Tiba-tiba baru sadar gitu," kata Doktor Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Berikut wawancara utuh --selama sejam lebih-- kontributor Suara.com, Rin Hindryati, dengan Heri Andreas, Kamis (18/6) malam via Zoom, usai dia menjadi narasumber di acara "Workshop Rembug Warga Penanganan Rob Pekalongan":

Kapan Anda mulai melakukan penelitian fenomena penurunan tanah?

Pertama kali ikut meneliti land subsidence itu tahun 1997. Waktu itu saya masih mahasiswa. Ikut dosen melakukan akuisisi data untuk riset penurunan tanah. Nah, saya ikutan. Awalnya ingin rame-rame aja sama teman, diajakin dosen ke Jakarta ngukur, tahun 1997. Pengukuran penurunan tanah dilakukan per tahun. Jadi tiap tahun kita ke sana.

Sampai akhirnya saya lulus, kemudian. Saya tidak nyari kerja karena ditawari, "Ya sudah, kamu di kampus aja." Akhirnya terus ikutan riset tersebut.

Baca Juga: Cerita Riswanto Warga Pluit yang Motor dan Perabotannya Teredam Banjir Rob

Sampai akhirnya sekarang ketagihan untuk terus riset. Ya sudah, saya terus riset-riset terkait penurunan tanah. Sebetulnya ada juga bidang riset lainnya.

Komentar