Suara.com - Dian Muljadi bukan hanya dikenal sebagai seorang pengusaha dan pebisnis perempuan yang sukses, Ia dianggap sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di Indonesia.
Meski demikian, ia terus berupaya agar setiap perempuan juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti dirinya. Sebagai putri Kartini Muljadi, seorang pengacara ternama dan salah satu pemilik konglomerat tersukses di Indonesia, Dian membawa warisan yang kuat.
Dian Muljadi memiliki pengaruh besar di dunia mode dan pernah memegang posisi penting di industri media, termasuk mengawasi Harper’s Bazaar Indonesia, Bravacasa, Marie Claire, dan Elle Decoration. Sebelum itu, ia menjabat sebagai Managing Director di Mugi Rekso Abadi (MRA) Media.
Saat berbincang dengan Suara.com, Dian banyak memberikan pandangannya tentang perempuan saat ini sekaligus pesan terhadap generasi muda.
"Menurut saya, perempuan di Indonesia sudah jauh lebih maju dan pintar. Kita tidak perlu lagi mengagungkan sosok Kartini, karena perempuan sekarang sudah menunjukkan banyak kemajuan," ujar Dian saat diwawancarai Suara.com beberapa waktu lalu.
Seperti apa wawancara lengkapnya? Berikut ini kutipan lengkapnya.
Dari kacamata seorang Dian Muljadi, seperti apa kondisi perempuan Indonesia saat ini?
Menurut saya, perempuan di Indonesia sudah jauh lebih maju dan pintar. Kita tidak perlu lagi mengagungkan sosok Kartini, karena perempuan sekarang sudah menunjukkan banyak kemajuan.
Bahkan, banyak presenter perempuan yang lebih pintar daripada laki-laki. Ini bukan untuk meremehkan laki-laki, tetapi perempuan bekerja sangat keras dan memiliki banyak tanggung jawab, termasuk mengurus keluarga. Saya sangat terharu saat Hari Ibu, mendengar cerita bagaimana mereka bangga menjadi ibu dan meluangkan waktu untuk keluarga mereka. Perempuan memiliki semangat juang yang luar biasa.
Sebagai pengusaha, apakah Anda percaya dengan anggapan bahwa perempuan tidak bisa produktif dibanding laki-laki?
Saya bisa bilang itu mitos. Saya telah bekerja sejak muda, dan meskipun ada waktu untuk haid dan melahirkan, itu hanya dibesar-besarkan. Pemerintah juga merencanakan cuti melahirkan selama empat bulan dan empat hari kerja seminggu.
Ini memang meringankan, terutama dengan empat hari work from home (WFH) khusus perempuan, tetapi tidak bisa diterapkan secara keseluruhan.
Bagaimana dengan perempuan single parent yang juga pekerja, apakah mereka bisa tetap produktif?
Menurut saya, perempuan single parent atau yang tidak punya anak seringkali lebih produktif dan mudah dihubungi. Mereka masih bisa menjawab pesan di atas jam 10 malam karena anak-anak mereka sudah tidur. Itu sangat mengagumkan. Jika dihubungi sebelumnya, mereka akan kerepotan karena anak-anak mereka belum tidur atau sedang belajar. Apalagi sekarang, sekolah sangat membutuhkan keterlibatan orang tua, sekitar 70-80%. Selalu ada program sekolah yang membutuhkan perhatian dan partisipasi orang tua.
Sebagai seorang ibu, bagaimana cara mengajarkan anak perempuan memilih pasangan agar tidak berbahaya (red flag)?
Menurut saya, zaman sekarang tidak perlu diajarkan secara langsung, karena anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan dari YouTube atau sumber lainnya. Yang penting adalah kita, sebagai orang tua, memiliki hubungan yang terbuka dengan anak dan memahami karakter mereka. Saya sendiri punya cucu yang satu terbuka dan satu lagi sensitif.
Untuk yang sensitif, perhatian lebih pada kesehatan mentalnya sangat penting. Anak-anak sekarang pintar dan sudah tahu tentang pacaran yang merugikan. Kita hanya perlu memberikan pendekatan dan ajaran agama. Semua informasi sudah tersedia di masyarakat dan media sosial, jadi mereka sudah tahu banyak.
Sebagai seroang nenek, bagaimana cara agar anak cucu tetap dekat dengan Tuhan?
Setiap minggu, saya mengajak mereka ke sekolah Minggu karena saya seorang Kristen. Selain itu, saya juga meminta guru agama datang ke rumah seminggu sekali. Saya lebih khawatir pada laki-laki karena melawan nafsu dan tetap di jalan yang benar itu sulit. Jadi, dengan pendekatan agama secara rutin, saya berharap mereka tetap dekat dengan Tuhan.
Adakah pesan untuk perempuan muda agar sukses dari hasil karya sendiri?
Untuk Gen Z, kalian sudah banyak mengalami kemajuan, tetapi tetaplah profesional dan jujur. Jangan membuat konten yang menyesatkan atau rekayasa, karena itu bisa merugikan orang lain. Hati-hati dalam memilih rekan kerja atau influencer, pastikan mereka memiliki reputasi baik dan latar belakang yang jelas. Tetaplah fokus dan jangan menggampangkan pekerjaan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Anhar Sudrajat, Lihai Membaca Masa Depan Kunci Sukses Metland
-
Sekjen ATSI Merza Fachys: Operator Siap Laksanakan Registrasi SIM Biometrik, Tapi...
-
Strategi Anggya Kumala Jadikan Oreo Gerakan Kebaikan Bagi Keluarga Indonesia
-
Feri Amsari Bongkar Sisi Gelap Korupsi Politik: Kasus Bisa 'Diciptakan' Demi Jerat Lawan!
-
Kunardy Darma Lie, Ambisi Membawa KB Bank Jadi 10 Besar di Indonesia
-
Prodjo Sunarjanto: Peluang Besar Logistik, Mobil Listrik hingga Tantangan dari Gen Z
-
Rolas Sitinjak: Kriminalisasi Busuk dalam Kasus Tambang Ilegal PT Position, Polisi Pun Jadi Korban
-
Transformasi Sarana Menara Nusantara dari 'Raja Menara' Menuju Raksasa Infrastruktur Digital
-
Tatang Yuliono, Bangun Koperasi Merah Putih dengan Sistem Top Down
-
Reski Damayanti: Mengorkestrasi Aliansi dalam Perang Melawan Industri Scam