/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 19:25 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: ANTARA)

SuaraBandung.idRusia kembali melancangkan serangan rudal ke ke ibu kota Ukraina pada Senin (10/10/2022).

Dalam serangan tersebut, dilaporkan delapan orang meninggal dunia dan 24 orang lainnya terluka dalam serangan rudal di Shevchenkivskyi, sebuah distrik di tengah kota Kyiv.

Serangan tersebut dilancangkan Rusia sehari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh intelijen Ukraina melakukan apa yang dia klaim sebagai "serangan teroris" di Jembatan Kerch.

Putin mengatakan "intelijen Ukraina" berada di balik ledakan 8 Oktober yang merusak jembatan strategis yang menghubungkan Rusia dengan semenanjung Krimea.

Ledakan tersebut menyebabkan dua jalur hancur, memperumit rantai pasokan militer Rusia yang sudah terganggu di selatan Ukraina saat Kyiv terus melakukan serangan balasan di daerah tersebut.

Menghadapi banyak kekalahan di medan perang, Rusia mengintensifkan serangan terhadap infrastruktur sipil, menewaskan sedikitnya 12 orang dalam serangan terhadap sebuah gedung apartemen di Zaporizhzhia.

Dilansir dari The Kyiv Independendet pada Selasa (11/10/2022), Presiden Volodymyr Zelensky menyebut serangan Rusia terhadap warga sipil sebagai "kejahatan mutlak", menambahkan bahwa Rusia adalah "biadab dan teroris."

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menyebutkan dalam Twitter bahwa Putin tidak akan menghancurkan Ukraina, namun, ia akan melakukan teror di kota Ukraina yang damai.

"Satu-satunya taktik Putin adalah melakukan teror di kota-kota Ukraina yang damai, tetapi dia tidak akan menghancurkan Ukraina," kata Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba di Twitter, dilansir dari Suara.com, Selasa (11/10/2022).

Baca Juga: Al Fatihah hingga An Nas, Ustaz Adi Hidayat: Bukan Sekadar Bacaan

Sehingga, selain di kota Kyiv, ledakan pun terdengar di kota-kota Zhytomyr, Khmelnytsky, Dnipro, Lviv, dan Ternopil.

Load More