News / Nasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 13:47 WIB
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman menanggapi kritik mantan Wamenlu, Dino Patti Djalal yang menyarankan Presiden Prabowo Subianto mengurangi kunjungan luar negeri. [Suara.com/Bagaskara]
Baca 10 detik
  • Dino Patti Djalal mengimbau Presiden Prabowo Subianto mengurangi frekuensi kunjungan luar negeri karena alasan biaya yang sangat besar.
  • Habiburokhman di Kompleks Parlemen Jakarta menegaskan tidak akan memberikan perlakuan khusus atau pertemuan formal untuk menanggapi saran tersebut.
  • Habiburokhman menyatakan semua warga negara berhak mengkritik, namun ia khawatir pernyataan Dino dianggap sebagai serangan politik yang membabi buta.

Suara.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menegaskan tidak akan ada perlakuan khusus atau upaya menggelar pertemuan formal dengan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal.

Hal ini disampaikan sebagai respons atas saran Dino agar Presiden Prabowo Subianto mengurangi kunjungan kerja ke luar negeri.

Habiburokhman menilai Dino Patti Djalal sama seperti warga negara lainnya dalam menyampaikan aspirasi, sehingga tidak perlu ada agenda khusus untuk menanggapi saran tersebut secara personal.

"Oh, saya pikir nggak ada yang istimewanya juga Pak Dino ya. Semua orang sama, warga negara ya. Yang mau mengkritik silakan ya, apakah terbuka atau tertutup," ujar Habiburokhman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Habiburokhman juga menanggapi pertanyaan mengenai apakah pernyataan Dino tersebut merupakan kritik yang membangun atau sekadar ejekan.

Ia mengaku khawatir publik akan melihat pernyataan Dino sebagai bentuk serangan yang tidak berdasar.

"Saya khawatir akan ada yang mendefinisikan itu lebih sebagai serangan politik membabi buta dan olok-olok politik. Ya silakan saja nanti dia jawab seperti apa sebenarnya," tegasnya.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal bersama tokoh diplomasi rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/2/2026). [Dok. Biro Pers Istana]

Meski menghargai hak berpendapat dalam negara demokrasi, Habiburokhman merasa perlu memberikan respons sebagai penyeimbang opini.

Ia menekankan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mengkritik, namun dirinya juga memiliki hak untuk menyampaikan pandangannya mengenai sosok yang melontarkan kritik tersebut.

Baca Juga: Habiburokhman Sentil Dino Patti Djalal: Jangan Sok Paling Tahu Diplomasi

"Habiburokhman ini harus juga menyampaikan pendapatnya soal Pak Dino ini, ya. Nggak perlu ada treatment khusus terhadap beliau. Silakan saja dan bagaimana warga negara lainnya yang mengkritik juga kita persilakan," imbuhnya.

Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mengimbau Presiden Prabowo Subianto untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal tersebut.

Imbauan itu disampaikan Dino melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Sebagai sahabat lama Prabowo, serta mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, Dino merasa perlu menyampaikan pernyataan tersebut.

Dino mengatakan, berdasarkan perhitungannya, dari seluruh pemimpin dunia, Prabowo menjadi salah satu kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri sejak menjabat sebagai presiden.

"Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri. Dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran. Dan sangat tidak mungkin dalam 18 bulan ke depan Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tinggi," tutur Dino.

Dino mengingatkan bahwa kunjungan kepala negara ke luar negeri memerlukan biaya besar, bahkan sangat besar.

Biaya tersebut mencakup rombongan tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokoler dan pengamanan, uang harian seluruh delegasi serta perangkat pendamping, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Load More