Suara.com - Cinta bisa bekerja secara misterius. Mac Ho menjadi salah satu saksi hidup dari misteri cinta. Pada 1997, di usia 39 tahun, dia mengalami masa-masa paling sulit. Gagal dalam bisnis menjahit membuat dia merugi 200 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp2 miliar.
Bukan itu saja, Mac Ho juga terlilit utang sebesar 60 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp60 juta. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga. Ayah mertuanya mengusir Mac Ho dari rumah karena dianggap sebagai pecundang.
Di titik terendah dalam hidupnya itu, Mac ambil bagian dalam paduan suara yang digelar di kuil di Waterloo Street. Di sana, dia bertemu dengan seorang akuntan bernama Eliza Yap.
“Setelah melakukan latihan di malam pertama, kami pergi untuk makan malam dan mulai berbicara. Kami kemudian makan malam bersama lagi pada dua malam berikutnya dan terus mengobrol. Pada malam ketiga, kami mulai berbicara tentang pernikahan,” katanya.
Pada malam keempat, Mac Ho menikah dengan Eliza. Keputusan mereka untuk menikah mengejutkan banyak orang. Mac Ho adalah laki-laki yang di ambang kebangkrutan sedangkan Eliza adalah akuntan dengan gelar MBA dari University of Hull dan menerima gaji besar dari perusahaan multinasional.
“Saya single dan tidak punya uang serta rumah, dia single dan akuntan. Dia sangat sempurna buat saya,” ujar Mac yang kini berusia 57 tahun.
Eliza (50 tahun) mengatakan,”Kami hanya berbicara tentang banyak hal. Meski dia tengah terpuruk, dia tidak memperlihatkan hal itu. Saya bekerja di perusahaan asing dengan ribuan karyawan dan saya sangat jarang melihat antusiasme seperti itu. Saya yakin bahwa orang dengan semangat seperti tidak bisa gagal selamanya,” kata Eliza.
Dengan bantuan dan dukungan Eliza, Mac Ho memulai lagi usahanya dari bawah. Dia pergi ke London untuk belajar menjadi ahli menjahit. Hari ini, dia dan istrinya mempunyai Raffles Tailor dan Raffles Suit Tailor di Marina Bay Link Mall.
Klien mereka berasal dari kalangan menengah ke atas termasuk konglomerat dari Rusia, Cina, India dan juga perusahaan besar di Shenton Way. Mac Ho adalah anak kelima dari delapan bersaudara.
Sejak usia muda, Mac Ho sudah rewel soal busana.
“Ibu saya tidak bisa menangani kami semua, jadi kami belajar untuk mengurus diri sendiri. Saya mencuci dan menggosok seragam sendiri,” katanya.
Mac juga kerap bergaul dengan temannya yang punya toko tekstil. Di usia 16 tahun, ketika duduk di kelas 3 SMA, dia memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah.
“Saya ingin mencari uang. Saya membayangkan kalau terus sekolah perlu waktu beberapa tahun sebelum saya bisa menghasilkan uang sendiri. Akan lebih cepat kalau saya tinggalkan sekolah dan memulai bisnis,” jelasnya.
Namun, niatnya itu tidak berjala sesuai rencana. Dia sempat membentuk grup musik dan tidak memulai bisnis. Setelah sempat mengikuti wajib militer, Mac mulai mendirikan toko penjahit di Katong Shopping Centre pada 1980. Bisnis berjalan dengan lambat.
Dia tidak merugi dan hanya cukup untuk balik modal. Mac pindah ke The Concourse di Beach Road untuk bisa meningkatkan bisnisnya. Apa lacur, keputusan itu merupakan sesuatu yang terburuk dalam hidup Mac. Bisnis jahitnya semakin terpuruk. Saat masa kontrak gedung habis pada 1997, dia menjadi lebih miskin Rp2 miliar dan punya utang Rp60 juta.
Saat itulah, Mac bertemu dengan Eliza yang menjadi ibu dari anak kembarnya. Berkat bantuan dan dorongan Eliza, Mac mampu mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang penjahit yang sukses.
“Dia mungkin tidak berpendidikan tinggi. Tetapi saya tahu dia akan menjadi sangat sukses karena dia mempunyai visi atas apa yang akan dilakukannya,” kata Eliza.
Cinta yang dicurahkan Eliza ternyata mampu membuat Mac bangkit dari kebangkrutan dan menjadi salah satu penjahit paling sukses di Singapura. (AsiaOne)
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- 5 Sepeda Lipat yang Ringan Digowes dan Ngebut di Tanjakan
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Harga Emas Naik Pada Akhir Pekan, Galeri 24 dan UBS Kompak Meroket
-
BRI Salurkan KPR Subsidi Rp16,16 Triliun, Perluas Akses Hunian Layak bagi MBR
-
Apa Itu 'Safe House' dalam Kasus Dugaan Korupsi Bea Cukai
-
Apa Itu Free Float? Mengulas Istilah Pasar Saham Wajib Diketahui Investor
-
Kode SWIFT BSI dan Panduan Lengkap Transaksi Internasional
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Panduan Lengkap Cara Daftar Antrian KJP Pasar Jaya 2026 Secara Online
-
Tok! OJK Bekukan Izin Underwriter UOB Kay Hian Sekuritas, Buntut Skandal IPO REAL
-
Pekerja BRI Insurance Galang Dana Mandiri demi Bencana Sumatra
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia