Bisnis / Makro
Rabu, 20 Mei 2026 | 18:57 WIB
Ilustrasi [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Indonesia kehilangan posisi sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara karena kapitalisasi pasar merosot menjadi US$618 miliar.
  • Penurunan nilai pasar disebabkan oleh sentimen investor negatif, penurunan prospek peringkat kredit, serta aksi jual masif investor.
  • Pemerintah Indonesia melakukan reformasi pasar guna mempertahankan status pasar berkembang saat menanti tinjauan MSCI bulan depan.

Suara.com - Indonesia tengah menghadapi periode yang menantang dalam lanskap finansial regional. Indonesia resmi kehilangan statusnya sebagai pemilik pasar saham terbesar di Asia Tenggara, posisi yang kini beralih ke Singapura.

Kapitalisasi pasar perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merosot lebih dari 30 persen sejak puncaknya pada Januari lalu, menjadi US$618 miliar. Di saat yang sama, kapitalisasi pasar Singapura justru mencatatkan kenaikan hingga mencapai US$645 miliar.

Penurunan signifikan ini dipicu oleh memburuknya sentimen investor dalam beberapa bulan terakhir. Ketidakpastian mengenai potensi reklasifikasi ekuitas Indonesia ke status frontier market (pasar perbatasan) menjadi beban utama.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, kondisi ini diperburuk dengan langkah lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings dan Moody’s Ratings, yang secara bersamaan menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

Akibatnya, indeks saham acuan Indonesia kini berada di posisi terbawah dibandingkan rekan-rekan globalnya, sementara nilai tukar rupiah terus mencatatkan rekor pelemahan berturut-turut.

Soh Chih Kai, manajer portofolio di Lion Global Investors, menilai bahwa saat ini momentum memang tidak berpihak pada Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa kebangkitan di masa depan tetap dimungkinkan.

“Namun demikian, fenomena ini memperkuat kedudukan relatif pasar Singapura, di mana arus modal terus mencari kepastian di tengah ketidakpastian kebijakan global,” ujar Soh kepada Bloomberg.

Berbeda dengan Indonesia, pasar ekuitas Singapura justru menuai keuntungan dari stabilitas ekonomi dan politik serta reformasi pasar yang dipimpin pemerintahnya.

Indeks Straits Times bahkan menyentuh rekor tertinggi pada pekan ini di tengah upaya investor mencari tempat berlindung (safe haven) selama volatilitas yang dipicu oleh konflik di Iran.

Baca Juga: Media Italia Soroti Lini Belakang Sassuolo Rapuh Saat Jay Idzes Absen

Aksi jual saham di Indonesia yang mencapai hampir US$360 miliar tahun ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah kini berada dalam posisi krusial untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi yang ambisius sekaligus memulihkan kepercayaan investor.

Lonjakan biaya energi diperkirakan akan menekan sentimen konsumen, sementara pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku impor bagi industri dalam negeri.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa investor global telah menarik lebih dari US$4 miliar dari pasar ekuitas Asia Tenggara sepanjang tahun ini, di mana lebih dari separuh angka tersebut berasal dari pasar Indonesia.

Selain itu, keputusan MSCI untuk menghapus sejumlah saham lokal—seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA)—diprediksi akan memicu arus keluar modal (capital outflow) hingga US$2 miliar pada akhir bulan ini.

Otoritas Indonesia sebenarnya telah melakukan serangkaian reformasi pasar dalam beberapa bulan terakhir guna mencegah penurunan status pasar.

Langkah tersebut mencakup kewajiban peningkatan level free float minimum menjadi 15 persen, dengan periode transisi hingga tiga tahun bagi perusahaan tertentu. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi domestik dinilai masih tetap tangguh.

Bagi investor ekuitas Indonesia, perhatian kini tertuju pada tinjauan MSCI terhadap status pasar Indonesia bulan depan. MSCI akan memutuskan apakah berbagai langkah reformasi yang diambil pemerintah sudah memadai untuk mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market).

Load More