Bisnis / Makro
Rabu, 20 Mei 2026 | 19:18 WIB
Commercial and External Affairs Director PT SiCepat Ekspres, Imam Sedayu Pusponegoro. [Suara.com/Novi Suci]
Baca 10 detik
  • SiCepat Ekspres memproyeksikan industri logistik nasional mampu mencapai pertumbuhan dua digit di tengah tantangan ekonomi global tahun ini.
  • Ekonomi digital yang konsisten tumbuh tinggi menjadi faktor utama pendorong ekspansi industri logistik melalui sektor perdagangan elektronik.
  • Perusahaan logistik terus melakukan inovasi operasional dan efisiensi moda transportasi untuk menjaga permintaan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Suara.com - Industri logistik nasional diperkirakan masih akan melanjutkan tren pertumbuhan positif sepanjang tahun ini. Di tengah tantangan kenaikan biaya energi hingga ketidakpastian geopolitik global, SiCepat Ekspres tetap optimistis sektor logistik masih mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit.

Commercial and External Affairs Director SiCepat Ekspres Imam Sedayu Pusponegoro mengatakan kinerja industri logistik pada kuartal pertama menunjukkan perkembangan yang cukup baik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Jadi kuartal pertama kita bisa bilang cukup bagus. Cukup bagus compare to kuartal pertama tahun 2023, tumbuh gitu ya. Artinya kita melihat bahwa tren ini masih terus berlangsung," kata Imam dalam program Executive Talk Suara.com, Rabu (20/5/2026).

Ilustrasi gerai SiCepat. (Google Maps/ Hilman Maulana)

Ia mengungkapkan proyeksi pertumbuhan logistik nasional tahun ini yang berada di kisaran 9,3 persen masih berpeluang meningkat, terutama bagi perusahaan yang fokus pada sektor ekonomi digital.

Menurut Imam, pertumbuhan ekonomi digital yang secara konsisten berada di level tinggi menjadi faktor penting yang menopang industri logistik.

"Kalau bicara teman-teman logistik yang fokus di ekonomi digital, kita masih optimis bahwa bisa tumbuh di atas 10 persen, double digit," ujarnya.

Imam menjelaskan pertumbuhan ekonomi digital dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran 15-20 persen. Tren tersebut dinilai masih akan memberikan ruang ekspansi bagi industri logistik, terutama yang berkaitan dengan e-commerce, marketplace, dan social commerce.

"Karena kita lihat memang ekonomi digital ini dari tahun ke tahun pertumbuhannya bisa sekitar 15 sampai dengan 20 persen," katanya.

Meski demikian, Imam mengakui sejumlah tantangan masih membayangi industri logistik, mulai dari gejolak geopolitik global hingga pelemahan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Harga BBM Naik, SiCepat Pilih Tahan Ongkir Ketimbang Bebani Konsumen

Namun dia menilai kondisi tersebut masih dapat diantisipasi melalui berbagai inovasi operasional, salah satunya dengan mencari moda transportasi yang lebih efisien.

"Again, itu kembali lagi bagaimana pelaku logistik ini bisa berinovasi. Kalau kita bisa merespons geopolitik tadi dengan membangun resiliency energi, kemudian ada perubahan moda dari air freight ke sea freight, biaya pengiriman yang lebih murah akan men-trigger demand," ucap Imam.

Dia menilai ongkos logistik yang lebih terjangkau berpotensi mendorong kembali aktivitas belanja masyarakat sehingga permintaan dapat kembali tumbuh.

"Kalau bicara apakah optimis? Selama kita bisa mengupayakan inovasi, kita cukup optimis," katanya.

Load More