Suara.com - Beberapa pedagang daging sapi di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengeluhkan tingginya harga daging sapi. Mereka menilai naiknya harga jualannya itu akibat tidak menentunya harga bahan bakar minyak dan karena kurangnya daging sapi impor.
"Sebelum naik harganya berkisar antara Rp80.000-Rp95.000 per kilogram, namun saat ini harganya mencapai Rp110.000 per kilogram," kata seorang pedagang sapi, Wik, di kiosnya, Pasar Senen, Jakarta, Jumat (3/4/2015).
Wik meyakini tingginya harga daging sejak dua bulan terakhir ini merupakan imbas dari tidak menentunya harga BBM.
"Harga daging mulai meninggi sejak harga BBM naik-turun," ujar dia.
Senada dengan Wik, Asep, penjual daging sapi yang telah berdagang selama 27 tahun, menyatakan bahwa keadaan kali ini merupakan salah satu yang terburuk selama ia berjualan.
"Kalau dahulu harga daging lebih murah karena masih banyak daging impor, jadi harganya bisa bersaing," kata dia.
Tingginya harga daging tidak ayal membuat para pedagang sepi pembeli dan berpengaruh secara langsung terhadap penurunan omset penjualan.
"Omzet saya berkurang 50 persen," kata Wik.
Dia melanjutkan, penurunan omzet tersebut karena ia tidak berani menaikkan harga sebab takut kehilangan pembeli setianya.
Muhammad Toha, seorang pedagang lain, juga menuturkan hal yang sama.
"Omzet berkurang karena saya tidak berani menjual dengan harga terlalu tinggi. Dengan harga yang sekarang saja pembeli bekurang," ujar dia.
Pedagang-pedagang ini pun berharap pemerintah dapat mendengar keluhan mereka dan melakukan sesuatu untuk menormalkan harga daging.
"Kami meminta pemerintah melakukan sesuatu untuk menormalkan harga daging, kalau bisa di kisaran maksimal Rp85.000. Apalagi bulan pada bulan Juni-Juli sudah memasuki puasa dan hari raya," kata Asep.
Sementara menurut Wik, pemerintah sudah seharusnya menurunkan harga daging sapi.
"Agar setiap warga Indonesia bisa membeli dan memakan daging sapi," tutur dia.
Sebelumnya mulai 28 Maret 2015 harga bensin premium RON 88 naik dari Rp6.800 menjadi Rp7.300 per liter dan solar naik dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter.
Harga baru ini berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 39 tahun 2014 Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM), yang telah diubah dengan Permen ESDM Nomor 4 Tahun 2015.
Adapun kenaikan BBM pada Maret 2015 itu merupakan yang kedua kali sejak Presiden Joko Widodo memerintah. Kenaikan pertama terjadi pada 18 November 2014. Namun, harga BBM juga mengalami penurunan sebanyak dua kali, yaitu mulai 1 Januari 2015 dan 19 Januari 2015. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
-
Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026
-
Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok