Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan stok bawang merah pada 2016 akan mengalami kelebihan produksi atau surplus dengan prediksi produksi akan mencapai 1,291 juta ton.
"Kita prediksi tahun 2016 ini akan mengalami surplus dengan jumlah produksi yang diperkirakan akan mencapai 1,291 juta ton, itu kan di bawah kebutuhan saat ini," kata Direktur Budidaya dan Pasca Panen Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Yanuardi di Garut, Jawa Barat, Sabtu.
Yanuardi menjelaskan saat ini stok bawang merah berada pada posisi aman, pasalnya kebutuhan nasional Indonesia adalah 880 ribu ton.
"Iya artinya kita surplus 449 ribu ton, kita bisa ekspor juga jika demikian," kata dia.
Pada tahun 2015 lalu, Yanuardi menjelaskan Indonesia melakukan ekspor kurang lebih 14.100 ton ke Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura. Namun, impor pada tahun 2015 juga ada dan jauh lebih kecil dibandingkan tahun 2014 lalu dengan penurunan sebesar 78 persen.
"Impor Januari-September 2015 adalah 15.700 ton, periode yang sama 2014 sampai 87.000 ton. Penurunan nilai impornya Rp295 miliar," tuturnya.
Yanuardi melanjutkan impor tersebut ada untuk industri dan konsumsi yang memang selama ini oleh pihaknya tidak dikendalikan.
"Tapi setelah Juni ada pengendalian impor, dimana kita ingin meningkatkan pendapatan petani, mengamankan petani karena kualitas produk kita sesungguhnya sangat jauh diatas produk impor karenanya nilai jualnyapun lebih tinggi namun kualitas kan tidak mengecewakan," katanya.
Salah seorang petani Bawang di Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Aliyudin (54) mengatakan untuk harga jual per kilogram bawang merah dataran tinggi di tempatnya adalah Rp10-11 ribu di tingkat petani, tengkulak Rp12-12,5 ribu di tingkat pengepul dan Rp22 ribu di pasar induk.
"Harga tersebut meningkat karena adanya pengeluaran distribusi dari kami hingga ke konsumen, kami harap ekonomi stabil, jadi harga juga stabil," kata Aliyudin yang merupakan Ketua Kelompok Tani Mekartani di desa setempat.
Senada dengan Aliyudin, petani lainnya yang berasal dari Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong Engkom Komarudin mengatakan para petani juga ingin mendapatkan insentif dari pemerintah untuk ikut serta dalam menjaga harga stabil.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya, berdasarkan informasi yang dihimpun Antara, di Kecamatan Bayongbong ada sekitar 800 hektare (ha) lahan produksi bawang merah dengan produktivitasnya 9-10 ton/ha dan biaya produksinya Rp60-80 juta per hektare.
"Kita disini mengharapkan bantuan dari pemerintah terutama benih, pengadaan embung, alat penanggulangan hama dan lain sebagainya untuk menekan nilai produksi sehingga bisa ikut menstabilkan harga juga," ujar pimpinan kelompok tani Hayatan Toyiban itu. [Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
IES 2026 Menjadi Ruang Dialog Ekonomi, Energi, dan Daya Saing Indonesia
-
Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia
-
Permintaan Obligasi Indonesia Turun ke Titik Terendah dalam Setahun Terakhir
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Pertamina Gagalkan Pencurian 10 Ton Minyak Mentah di Prabumulih
-
Arief Muhammad Rambah Bisnis Baru, Portofolio Usaha Makin Besar
-
Pandu Sjahrir Beberkan Mekanisme Danantara Investasi di Pasar Saham
-
Danantara Tak Mau Ikut Campur Soal Saham Gorengan yang Diusut Bareskrim
-
Tak Lagi Andalkan Listrik, Bisnis Beyond kWh Didorong Jadi Sumber Pertumbuhan
-
Setelah Perbaiki KRAS, Danantara Bangun Pabrik Baja Baru