Suara.com - Bank Sentral Australia pada Selasa (2/2/2016) mempertahankan suku bunga utamanya pada rekor rendah dua persen, tetapi menjaga kemungkinan pemotongan lebih lanjut karena bank memonitor kemungkinan dampak negatif dari gejolak pasar global terhadap permintaan domestik.
Bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), telah memangkas suku bunga 275 basis poin sejak November 2011 untuk meningkatkan perekonomian ketika berupaya keras untuk menjauh dari ketergantungan pada pertambangan.
Setelah pertemuan kebijakannya pada Selasa mengatakan "ada prospek layak untuk pertumbuhan lanjutan dalam perekonomian, dengan inflasi mendekati target ".
RBA mencatat tanda-tanda perbaikan dalam perekonomian Australia, termasuk penurunan baru-baru ini dalam tingkat pengangguran dan penibgkatan dalam pinjaman dunia usaha.
Tapi bank memperingatkan tentang keadaan ekonomi global, termasuk pertumbuhan lemah di negara-negara berkembang, penurunan harga komoditas dan volatilitas di pasar keuangan.
"Selama periode ke depan, informasi baru akan memungkinkan dewan untuk menilai apakah perbaikan terbaru dalam kondisi pasar tenaga kerja berlanjut dan apakah turbulensi keuangan baru-baru ini menandakan permintaan global dan domestik lebih lemah," kata Gubernur RBA Glenn Stevens dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan.
"Berlanjutnya inflasi yang rendah dapat memberikan ruang untuk kebijakan yang lebih longgar, yang akan tepat untuk memberikan dukungan bagi permintaan." Dolar Australia naik menjadi 71,29 sen AS setelah pengumuman dari 71,06 sen AS, tapi segera mundur ke bawah 71 sen AS.
Sementara Australia telah menghindari kejatuhan ke dalam resesi selama 24 tahun, ekonomi telah dirugikan oleh pelambatan pertumbuhan di Tiongkok, mitra perdagangan terbesarnya.
Pengeluaran oleh industri-industri non-pertambangan belum mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh berakhirnya booming investasi sumber daya yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara tingkat pengangguran mencapai puncaknya pada tertinggi 12-tahun di 6,4 persen pada tahun lalu sebelum membaik.
Australia juga telah terpukul oleh angka inflasi lemah, sebuah tren yang sedang dialami oleh negara-negara maju lainnya karena penurunan harga energi.
"Kami belum tahu bahwa volatilitas di pasar (keuangan) akan berdampak pada pertumbuhan," kepala ekonom Deutsche Bank untuk Australia Adam Boyton mengatakan kepada AFP.
"Jika Anda memasukkan semacam lingkungan dengan penurunan tingkat pengangguran, Anda punya banyak waktu untuk mendapatkan beberapa data yang lebih banyak dan melihat-lihat." (Antara)
Berita Terkait
-
Agar Rupiah Stabil Jadi Alasan BI Naikan BI-Rate Jadi 5,75%
-
Gegara Rupiah Keok, Bank Indonesia Mendadak Naikkan BI-Rate Jadi 5,50%
-
BI Rate Melonjak 5,25 Persen! Ekonomi RI Dipaksa Tarik Rem Darurat
-
BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 Bps Jadi 5,25 Persen
-
Rupiah Anjlok Rp17.500 per Dolar AS, Suku Bunga Berpotensi Naik
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun