-
Target 62.918 SPKLU pada 2030 untuk percepat transisi EV dan kurangi subsidi BBM.
-
Hingga Mei 2026, baru tersedia 4.892 unit SPKLU roda empat yang beroperasi di Indonesia.
-
Ekspansi infrastruktur kini diperluas ke 9 provinsi melalui kolaborasi ESDM dan UNDP.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk roda empat di Indonesia mencapai 62.918 unit pada tahun 2030.
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat transisi ekosistem kendaraan listrik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengurangan impor dan subsidi BBM.
Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Ferry Triansyah, menjelaskan bahwa hingga Mei 2026, jumlah SPKLU roda empat yang beroperasi di Indonesia baru mencatatkan angka sekitar 4.892 unit. Guna mengejar selisih target yang cukup besar tersebut, pemerintah mengintensifkan kolaborasi lintas sektor.
"Hingga Mei 2026, SPKLU roda empat di Indonesia telah mencapai sekitar 4.892 unit. Target pertumbuhan SPKLU roda empat pada tahun 2030 sebesar 62.918 unit," ujar Ferry dalam pertemuan Project Board Meeting Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV) di Jakarta yang dikutip pada Jumat (8/5/2026).
Percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya ini awalnya difokuskan pada tiga provinsi proyek percontohan (pilot project), yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali.
Kini, program tersebut telah direplikasi ke enam kota di enam provinsi lainnya, meliputi Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Banjarmasin, dan Serang.
Head of Environment Unit United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Aretha Aprilia, menambahkan bahwa transisi ke kendaraan listrik merupakan langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok energi global.
Sebagai informasi, proyek ENTREV merupakan program kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dan UNDP. Program ini dirancang untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi sekaligus menekan emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Baca Juga: Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah
-
Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?