- Pemerintah mau ganti LPG ke CNG demi kurangi impor.
- Berdasarkan data porsi impor LPG nasional pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan.
- CNG memiliki tekanan yang cukup tinggi membuat CNG lebih rawan meledak.
Suara.com - Pemerintah kini melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah pengembangan yang tengah digarap oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan terhadap impor LPG.
Berdasarkan data Kementerian ESDM dalam rapat dengar pendapat bersama DPR pada 8 April lalu, porsi impor LPG nasional pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan. Angka ketergantungan ini diproyeksikan melonjak hingga 83,97 persen pada 2026.
Secara rinci, kebutuhan LPG pada 2025 tercatat sebesar 25.000 metrik ton per hari. Memasuki periode Januari–Februari 2026, angka tersebut naik 1.000 metrik ton menjadi 26.000 metrik ton per hari. Hingga akhir Februari 2026, total impor LPG bahkan telah menembus 1,31 juta ton. Jumlah ini berbanding terbalik dengan volume produksi nasional yang hanya mampu menyuplai 0,13 juta ton.
Kebutuhan untuk mengurangi impor LPG kian mendesak di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik diketahui telah mengganggu rantai pasok energi dunia dan mendongkrak harga komoditas ke level yang lebih tinggi.
Atas berbagai pertimbangan itu, pemerintah melirik CNG sebagai alternatif pengganti LPG. Apalagi, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyebut bahan baku CNG di Indonesia sangat melimpah dibanding LPG yang terbatas.
Apa itu CNG?
Mengutip dari laman Perusahaan Gas Negara (PGN), CNG atau Compressed Natural Gas adalah gas alam yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi. Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal menjelaskan CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG. Tekanan CNG mencapai 200–250 bar, sementara LPG hanya 5–10 bar.
CNG terdiri dari campuran hidrokarbon, seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, kandungan metana menjadi yang paling dominan, bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen. Berbeda dengan LPG yang berbentuk cair di bawah tekanan sedang, CNG tetap berbentuk gas yang dikompresi dengan tekanan sangat tinggi.
Apa tantangan pengembangan CNG jadi pengganti LPG?
Baca Juga: Siap-siap Transisi LPG ke CNG! Ini 4 Pilihan Kompor 2 Tungku yang Awet dan Aman
Karena memiliki tekanan yang cukup tinggi membuat CNG lebih rawan meledak dibanding LPG. Ketua Aspermigas Moshe Rizal bahkan menyebut daya ledaknya jauh lebih besar dibanding LPG.
"Kebayangkan. Sedangkan LPG sering kita dengar kan, banyak kecelakaan, tabung yang meledak dan lain sebagainya. Ini bayangkan, tekanannya itu setidak-tidaknya itu bisa 25 kali lipat daripada LPG," kata Moshe saat dihubungi Suara.com pada Kamis (7/4/2026).
Faktor keamanan inilah yang menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan LPG. Hal itu pula yang membuat pemerintah lebih memilih LPG sebagai pengganti minyak tanah pada program konversi energi tahun 2007 lalu.
Ukuran Tabung jadi Lebih Besar
Selain faktor risiko ledakan, tantangan lain terletak pada dimensi fisik kemasan jika CNG dikemas dalam ukuran 3 kilogram. Moshe menjelaskan bahwa densitas energi CNG 2,5 kali lebih rendah dibanding LPG. Konsekuensinya, untuk menghasilkan kapasitas energi yang sama, ukuran tabung CNG 3 kg diprediksi akan lebih besar daripada tabung LPG 12 kg.
Tabung CNG juga harus dibuat jauh lebih tebal untuk menahan tekanan tinggi agar tidak mudah meledak, sehingga bobot tabung bisa lebih berat daripada isinya sendiri.
Memang ada solusi menggunakan bahan carbon fiber agar tabung lebih ringan dan kuat, namun harganya diperkirakan bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal.
Di samping itu, perbedaan karakteristik kalori antara CNG dan LPG membuat masyarakat harus memodifikasi atau menggunakan kompor khusus agar gas bisa digunakan.
Apakah CNG Efektif gantikan LPG bagi Rumah Tangga?
Dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan dimensi tabung, Moshe tidak menganjurkan penggunaan CNG untuk sektor rumah tangga. Menurutnya, pemanfaatan CNG lebih efektif jika didorong secara masif untuk kebutuhan industri, seperti perhotelan dan restoran.
"Untuk industri sebenarnya sudah lama. Industri juga sudah didorong oleh pemerintah untuk menggunakan CNG, menggantikan LPG. Tapi kalau untuk masyarakat, apalagi rumah tangga, saya sih tidak begitu menganjurkan ya. Karena masalah risiko safety ini sangat-sangat besar," ujar Moshe.
Moshe menilai industri perhotelan dan restoran, memiliki kapasitas untuk menerapkan prosedur keamanan dan penempatan tabung yang ketat.
"Di hotel misalnya, tabung CNG bisa diletakkan di luar ruangan atau di area khusus untuk meminimalkan risiko. Namun, untuk skala rumah tangga hal ini sulit dilakukan karena tekanan CNG bisa 25 kali lipat lebih tinggi (dibanding LPG)," jelasnya.
Namun, , jika program pemanfaatan gas alam ini akan tetap dijalankan untuk masyarakat, Moshe menyarankan agar pendistribusiannya tidak menggunakan tabung eceran, melainkan melalui Jaringan Gas (Jargas) skala lokal yang dikelola pihak swasta.
Skema ini bisa diterapkan di kawasan padat hunian seperti rumah susun, apartemen, atau kompleks perumahan. CNG dapat ditempatkan di satu titik penyimpanan pusat, lalu dialirkan ke rumah-rumah melalui pipa gas. Model penyaluran melalui pipa ini juga sudah lazim diterapkan di berbagai negara.
"Jargas itu kenapa lebih aman? Karena dari sisi tekanan palingan cuma 2-3 bar untuk mengalirkan. Jadi, kalau misalkan ada kebocoran, dampaknya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan tabung CNG," jelas Moshe.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah
-
Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?
-
Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?
-
Ada Apa dengan IHSG Hari Ini, Ambruk 2% hingga 607 Saham Merah
-
UMKM Mitra Binaan Pertamina Mengudara, Kini Menjangkau Penumpang Pesawat Pelita Air
-
Ambisi Prabowo-Bahlil: Alirkan Listrik Lintas Negara ke Wilayah 3T