- Pemerintah gandeng BUMN dan swasta percepat stabilisasi pasokan serta harga beras nasional.
- Beras SPHP jadi instrumen utama bendung kenaikan harga di berbagai wilayah Indonesia.
- HKTI nilai harga gabah Rp6.500/kg sudah ideal bagi petani, namun biaya produksi kian naik.
Suara.com - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercepat langkah pengendalian harga beras dengan merangkul seluruh lini dalam rantai pasok pangan. Kolaborasi ini melibatkan Perum Bulog, pelaku usaha penggilingan (PERPADI), petani (HKTI), hingga ritel modern (APRINDO) guna memastikan kelancaran distribusi dan stabilitas harga di pasar.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pemerintah memerlukan data riil dari lapangan untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. "Kami ingin mendapatkan informasi yang jelas dari pelaku usaha dan petani mengenai kondisi sebenarnya, sehingga kebijakan yang diambil sesuai dengan dinamika pasar," ujarnya dalam pertemuan di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Dalam upaya menahan laju harga, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap menjadi senjata utama. Ketua Umum PERPADI, Sutarto Alimoeso, menyarankan agar distribusi SPHP dilakukan secara fleksibel dan efektif mengikuti fluktuasi harga. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan persaingan pembelian gabah agar harga di tingkat hulu tidak melonjak liar.
Di sisi produsen, Wakil Ketua Umum DPN HKTI, Mulyono Machmur, menyebutkan bahwa harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini, yang berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sudah sangat ideal bagi kesejahteraan petani. "Angka ini sudah cukup bagus dan patut dipertahankan untuk menjaga semangat produksi petani," jelasnya.
Namun, tantangan muncul dari sisi biaya produksi. Pelaku usaha mengeluhkan kenaikan harga bahan baku, biaya distribusi, hingga kemasan yang menekan margin usaha. Menanggapi hal ini, perwakilan PERPADI, Budiman, mengusulkan agar pemerintah melakukan evaluasi berkala terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) guna menyesuaikan dengan struktur biaya aktual di lapangan.
Melalui sinergi ini, pemerintah optimis pasokan beras tetap aman dan lonjakan harga dapat segera diredam demi menjaga daya beli masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah
-
Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?
-
Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?
-
Ada Apa dengan IHSG Hari Ini, Ambruk 2% hingga 607 Saham Merah