Suara.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan produksi kopi nasional hanya naik satu persen pada 2015.
"Produksi kopi di Tanah Air stagnan yakni hanya sekitar 500 ribu ton pada tahun lalu dan kenaikannya hanya satu persen," kata Jusuf Kalla pada pertemuan pengembangan kopi nasional di Mahan Agung, Bandarlampung, Sabtu (13/2/2016).
Ia menyebutkan produktivitas kopi di Tanah Air hanya sekitar 600 hingga 700 ribu ton per tahun. Bandingkan dengan Vietnam yang bisa mencapai di atas 2 ton per tahun.
Padahal, menurutnya, Vietnam belajar budi daya tanaman kopi dari Indonesia.
Jusuf Kalla mengatakan bahwa Provinsi Lampung merupakan penghasil kopi robusta terbesar di Tanah Air. Produksi kopi Provinsi Lampung sekitar 100 sini ton per tahun.
Hadir pada pertemuan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, -dan sejumlah pejabat lainnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Dari Lokal ke Global, Diplomasi Biji Kopi Indonesia yang Kini Merambah Pasar Taiwan
-
Soyangri Book Kitchen: Saat Luka Disembuhkan oleh Buku dan Kopi
-
Tren Hybrid Cafe di Jakarta, Kedai SCBD Ini Buat Kopi dari Mesin Ratusan Juta Asal Italia
-
Inspirasi Ekonomi Kreatif Lokal: Saat Barista Kampung Punya Skill Ibu Kota di Hijrah Kopi
-
Dari Dingin Ekstrem ke Manis Berlapis, Cerita Dua Menu Andalan BeanStar Coffee yang Wajib Dicoba
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari