Suara.com - Meski pemerintah telah menurunkan harga bahan bakar minya (BBM) jenis premium dan solar, Komite Penghapusan Bahan Bakar bertimbal meminta kepada pemerintah untuk transparan terkait penetapan harga bahan bakar minyak.
"Soal harga BBM ini dari waktu ke waktu selalu menjadi masalah. Hal ini karena pemerintah tidak transparan, makanya selalu menjadi problem," kata Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin saat menggelar konferensi pers di Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (4/4/2016).
Ia mencontohkan, pemerintah Singapura terbuka tentang penetapan harga BBM. Mulai keuntungan yang akan diambil oleh perusahaan penyedia minyak.
"Contoh, mereka buka data soal keuntungan yang diambil. Itu hanya 5 dolar AS, jadi mau harga naik atau nggak ambil untungnya segitu. Kalau di Indonesia kan 10 persen, kalau harga naik ya untungnya naik," ungkapnya.
Selain itu, ia juga mempermasalahkan keputusan Presiden Joko Widodo yang dalam penetapan harga BBM yang masih mengacu pada harga pasar (Border Price harga Internasional), berdasarkan PP No. 36 tahun 2004 pasal 2, yang berbunyi.
"Kegiatan usaha Hilir dilaksanakan oleh badan usaha yang telah memiliki izin usaha yang dikeluarkan oleh Menteri dan diselenggarakan melalui mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan. Ini berarti inkonstutisional," katanya.
Menurutnya, hal ini sangat bertentangan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi No.002/PUU-I/2003, tertanggal 21 Desember 2004, yang pokoknya telah mencabut ketentuan tentang penetapan harga berdasarkan pasal 28 ayat 3 Undang Undang No.22 tahun 2001 tentang Migas.
"Adapun seharusnya penetapan harga BBM dilakukan berdasarkan metode Harga Pokok Penjualan," kata Ahmad.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran
-
Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah
-
Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%
-
Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran
-
Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru