Suara.com - Bank Indonesia (BI) memprediksi akan terjadi perlambatan pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini menjadi 8-10 persen (year on year/YOY). Prediksi itu lebih rendah dari proyeksi bank sentral sebelumnya yang selalu menyiratkan optimisme, bahwa realisasi pertumbuhan kredit akan tumbuh di atas 10 persen.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta, Selasa malam, penurunan proyeksi itu juga tidak terlepas dari capaian pertumbuhan kredit perbankan secara tahun berjalan atau dari Desember 2015 hingga Mei 2016 yang relatif kecil yakni sekitar 0,3 persen.
"Sulit untuk mencapai pertumbuhan kredit 12 persen, paling mungkin 8 hingga 10 persen," kata dia.
Namun, Mirza meyakini pada semester II 2016 permintaan dari masyarakat dan pasokan kredit perbankan akan meningkat dan mampu memulihkan penyaluran kredit yang loyo di semester I.
Peningkatan itu akibat relaksasi makroprudensial dengan penaikan batas bawah rasio pinjaman terhadap pendanaan bank (Loan to Funding Ratio/LFR) menjadi 80 persen dari 78 persen yang akan meningkatkan pasokan kredit perbankan, dan pelonggaran rasio pinjaman kredit dari agunan (Loan To Value/LTV) Kredit Pemilikan Rumah menjadi 85 persen dari 80 persen, yang diyakini bisa menggenjot permintaan kredit lini konsumer tersebut.
"Secara tren kuartal III dan IV memang akan naik, tapi agak sulit memang menyentuh (pertumbuhan) 12 persen," ucap Mirza.
Terkait dengan insentif makroprudensial lain untuk mendorong konsumsi, yakni pelonggaran kredit kendaraan bermotor (KKB), Mirza mengatakan BI masih mengkaji hal itu.
Bank Sentral juga masih ingin mencermati seberapa cepat perbankan bisa melakukan penyesuaian dengan kebijakan pelonggaran LTV dan penyesuaian LFR dari bank sentral.
Bank Sentral pada awal tahun sempat mematok proyeksi pertumbuhan kredit perbankan sebesar 12-14 persen. Namun, proyeksi tersebut harus terdegradasi menyusul masih lambatnya kinerja saluran kredit perbankan dan permintaan masyarakat.
Pertumbuhan kredit perbankan dibandingkan tahun ke tahun pada April 2016 sebesar 8 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan kredit dari tahun ke tahun pada Maret 2016 yang sebesar 8,7 persen.
Pada 2009, saat bangkrutnya bank investasi Lehman Brothers memicu gejolak hebat di pasar keuangan global, kredit perbankan di Indonesia dari Desember 2008 hingga Mei 2016 stagnan alias bertumbuh 0 persen. Namun, di semester II 2009 kinerja kredit perbankan bisa ditingkatkan.
Pada akhir 2009, kata Mirza, kinerja kredit perbankan dapat diperbaiki, meskipun pertumbuhannya hanya 10 persen. [Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
BBRI Anjlok ke Titik Terendah, Investor Lokal Jadi 'Penyelamat' saat Saham Diobral Asing
-
Update Harga Minyak Dunia Usai Menhan AS 'Bantah' Omongan Donald Trump
-
Idul Adha 1447 H, Pegadaian Distribusikan 913 Hewan Kurban untuk Masyarakat di Seluruh Indonesia
-
Bisakah Membatalkan Transaksi PayLater Kredivo yang Sudah Telanjur?
-
Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran
-
Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah
-
Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%
-
Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran
-
Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!