Suara.com - Bali memperoleh devisa dari ekspor kerajinan berbahan baku bambu sebesar 7,59 juta dolar AS selama sembilan bulan, periode Januari-September 2016, naik 23,41 persen dari 6,15 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Sedangkan dari segi volume meningkat 4,47 persen dari 4,45 juta unit pada sembilan bulan pertama 2015 menjadi 4,65 juta unit pada periode yang sama 2016," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Made Suastika di Denpasar, Minggu (27/11/2016).
Ia mengatakan, pengapalan aneka jenis kerajinan berbahan baku bambu dari segi perolehan devisa jauh lebih besar dibandingkan peningkatan volume itu menunjukkan hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali dihargai semakin mahal.
Kerajinan anyaman berbahan baku bambu itu mampu memberikan kontribusi 1,87 persen dari total nilai ekspor Bali sebesar 406,31 juta dolar AS selama sembilan bulan pertama 2016, meningkat 13,75 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tercatat 357,199 juta dolar AS.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali sebelumnya pernah mengajak delapan perajin bambu dari Kabupaten Bangli untuk mengadakan studi banding ke sentra pengembangan kerajinan bambu di Jawa Timur.
Studi banding yang dilaksanakan itu sebagai upaya meningkatkan wawasan, kreativitas dan rancang bangun (desain) dalam meningkatkan mutu hasil kerajinan bahan baku bambu.
Made Suastika menambahkan, pihaknya juga melakukan pelatihan desain dan diversifikasi produk kerajinan bambu melibatkan para perajin dan usaha jenis kerajinan tersebut.
Kerajinan berbahan baku bambu yang menembus pasaran luar negeri itu antara lain berupa tempat koran, bakul, topi berbentuk kerucut, dompet dan hiasan untuk kamar tamu rumah tempat tinggal maupun hotel.
Selain itu juga ada berupa patung dan aneka jenis cenderamata lainnya yang dibuat dari akar bambu.
Aneka jenis hasil kerajinan dari bahan baku bambu itu paling banyak diserap pasar Amerika Serikat yakni 25,23 persen, menyusul Jepang 15,35 persen, Singapura 0,24 persen, Australia 6,98 persen, Thailand 0,11 persen, Jerman 2,79 persen, Hongkong 0,10 persen, Perancis 6,76 persen, Spanyol 5,15 persen dan Inggris 4,56 persen.
Sedangkan 32,75 persen sisanya menembus berbagai negara lainnya berkat cenderamata hasil sentuhan perajin Bali mampu bersaing di pasar ekspor. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- 5 Sepeda Lipat yang Ringan Digowes dan Ngebut di Tanjakan
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Panduan Lengkap Cara Daftar Antrian KJP Pasar Jaya 2026 Secara Online
-
Tok! OJK Bekukan Izin Underwriter UOB Kay Hian Sekuritas, Buntut Skandal IPO REAL
-
Pekerja BRI Insurance Galang Dana Mandiri demi Bencana Sumatra
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
-
Pertamina Integrasikan Tiga Anak Usaha ke Sub Holding Downstream
-
PANI Tutup 2025 dengan Pra Penjualan Rp4,3 Triliun, Capai Target 100%
-
Moodys Goyang Outlook 7 Raksasa Korporasi Indonesia: BUMN Mendominasi
-
IHSG Loyo ke Level 7.935 Pekan Ini, Investor Asing Masih 'Buang Barang' Rp11 Triliun
-
MBG Diperlukan Di Tengah Tantangan Ekonomi?