Realisasi Kredit Usaha Rakyat atau KUR pada 2016 mencapai Rp 94,4 triliun. Angka tersebut di bawah target yang ditetapkan Rp 100 triliun. Sedangkan untuk rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) cukup rendah yaitu di angka 0,37 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, penyaluran KUR yang tidak mencapai target pada 2016 lantaran, pemerintah memperketat prosedur dan seleksi penerima atau debitor. Selain itu, tak semua bank atau lembaga keuangan bisa menyalurkan KUR. Hanya bank yang memiliki rasio kredit di bawah lima persen yang bisa meyalurkan KUR.
"Dari awal digariskan kebijakan yang boleh hanya lembaga keuangan dan bank terutama yang NPL kurang lima persen. Terutama dalam menyalurkan kredit UKM, yang boleh menyalurkan hanya NPL di bawah lima persen," kata Darmin saat rapat kerja dengan Komisi XI di gedung DPR RI Senayan Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017).
Darmin menjelaskan, diperketatnya syarat yang ketat bagi bank penyalur KUR untuk menghindari penumpukan kredit bermasalah. Hal ini dilakukan agar kondisi baik dari perbankan dan perekonomian di Indonesia tidak mengalami penurunan nantinya.
"Kami tidak ingin terulang lagi penumpukan NPL, yang susah nantinya petani juga, yang tidak salah dibikin repot," katanya.
Darmin menjelaskan, Bank sebagai penyalur terbesar adalah Bank Rakyat Indonesia (BR) yakni dengan plafon Rp69,45 triliun, outstanding Rp50,2 triliun, 3,99 juta debitur, dan dengan NPL (kredit bermasalah) 0,32 persen.Kedua adalah Bank Mandiri dengan plafon Rp13,31 triliun. Lalu di posisi ketiga disusul oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk, sebesar Rp10,32 triliun.
Jika dilihat dari jenis usaha, KUR tahun lalu terdiri dari mikro sebesar Rp65,6 triliun atau 69,5 persen, ritel sebesar Rp28,6 triliun atau 30,3 persen dan penempatan TKI sebesar Rp177 miliar atau 0,2 persen.
Jika berdasarkan sektor usaha, KUR paling banyak disalurkan ke sektor perdagangan. Dirinya berharap ke depannya KUR bisa ditujukan untuk sektor produktif seperti pertanian, perikanan hingga perburuan.
"Perdagangan 66,2 persen, pertanian, perburuan, kehutanan, perikanan, industri pengolahan 22,6 persen, terlihat betul perdagangan masih besar," ujarnya.
Baca Juga: Penyaluran KUR Sepanjang 2016 Didominasi Pulau Jawa
Berita Terkait
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah
-
Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat
-
Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas
-
Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN
-
Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum
-
Promo Tiket Kereta Api di BRImo Langsung Dapat Cashback 15 Persen, Cek Syaratnya!
-
Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat
-
Pemkab Musi Banyuasin Usulkan Lahan Sekolah Rakyat
-
Habiskan Malam Panjang di Ibu Kota: Intip 5 Cara Menikmati Jakarta hingga Dini Hari di PIK
-
Dari Susu Jadi Yogurt Berkualitas, Transformasi Peternak Karanglo Naik Kelas Bersama BRI