Pada Hari ke-2 Konferensi Kelautan Dunia yang digelar di Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York, Amerika Serikat (AS) Menko Maritim Luhut Pandjaitan kembali berbicara di sesi Plennary Meeting ke-2 bersama dengan sekitar 21 menteri dari berbagai negara.
Dalam kesempatan tersebut, ada empat agenda utama yang diungkapkan oleh Menko Luhut Pandjaitan. Pertama, peluncuran Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI). “Pemerintah Indonesia menyadari tanggung jawab besar yang diemban untuk menjaga kesehatan laut serta wilayah perairannya,”ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (7/6/2017). Hal tersebut, lanjut Menko Luhut, karena berbagai potensi kelautan yang dimiliki oleh Indonesia, yakni posisi strategis yang berada di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta Laut China Selatan. Dengan posisi tersebut, tambah Menko Luhut, perdagangan global sangat bergantung pada perairan Indonesia.
Disisi lain, Indonesia juga memiliki luas hutan mangrove dan padang rumput laut terbesar di dunia serta 17 persen dari terumbu karang di dunia. “Untuk menjaga itu semua, kami menyusun KKI yang terdiri dari tujuh pilar, yaitu pengelolaan sumberdaya kelautan dan manusia, pertahanan, keamanan dan penegakan hukum di laut, tata kelola laut, ekonomi maritim, infrastruktur, manajemen zonasi dan lingkungan laut, budaya maritim serta diplomasi maritim,”jelas Menko Luhut. Dan kegagalan dalam pengelolaan laut, menurutnya, akan kontraproduktif terhadap upaya-upaya pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan.
Kedua, Menko Luhut kembali mengingatkan terhadap beberapa ancaman yang dihadapi oleh laut dari aktifitas manusia antara lain sampah plastik serta aktifitas Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF). “Minyak yang mencemari laut berasal dari aktifitas kapal atau pengeboran minyak, tumpukan sampah plastik laut yang mengambang menyerupai pulau raksasa kemudian dimakan oleh ikan atau mamalia laut lainnya juga berasal dari aktifitas manusia,”tukasnya dengan mimik serius.
Tak cukup disitu, Menko juga menambahkan, aktifitas IUUF atau kejahatan transnasional disektor perikanan yang mengancam keberlangsung sumberdaya hayati di laut juga disebabkan oleh ulah manusia. “Begitupun kerusakan terumbu karang di Raja Ampat yang keindahannya tak ternilai yang disebabkan oleh kapal pesiar juga tak lain diakibatkan oleh kecerobohan manusia,”ingatnya. Untuk itu, Menko Luhut menegaskan bahwa pemerintah RI tidak main-main dalam mengatasi tantangan tersebut.
“Di dalam negeri, kami telah menyusun Rencana Aksi Nasional untuk mengatasi sampah plastik di laut yang didalamnya memuat tentang pengembangan bioplastik, pengelolaan sampah menjadi energi, daur ulang sampah serta penguatan kapasitas bagi pemerintah daerah untuk pengelolaan sampah maupun memfasilitasi mereka agar bisa melakukan kerjasama di tingkat internasional dalam pengelolaan sampah,”jelas Menko.
Untuk menunjukkan keseriusan pemerintah, diapun menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia telah bertekad untuk mengurangi penggunaan plastik dalam waktu delapan tahun dan menginvestasikan sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk program pengelolaan sampah.
Lebih lanjut, mengenai kejahatan IUUF, Menko mengungkapkan bahwa tidak hanya melakukan penegakan hukum dengan ketat, Indonesia juga sedang bekerjasama dengan negara kawasan di Asia Tenggara dan Asia Pasifik serta negara-negara pasar seperti Uni Eropa, AS, China, Jepang dan Korea. “Kini kami sedang menyusun instrumen kerjasama regional untuk memberantas kejahatan di sektor perikanan karena kami sadar bahwa kejahatan ini tidak hanya terjadi di dalam negeri namun juga terjadi secara global,”katanya.
Baca Juga: Luhut: Ada Rencana Aksi Nasional Untuk Atasi sampah Plastik Laut
Aktifitas IUUF telah membunuh spesies yang jumlahnya tak terhitung lagi serta menyebabkan kemiskinan di masyarakat pesisir yang membentang dari Asia hingga Afrika.
Terakhir, Menko Luhut mengajak negara-negara pulau untuk membentuk forum Negara Kepulauan dan Negara Pulau di Konferensi Kelautan Dunia PBB. Hal ini bukan tanpa alasan. Menurut Menko Luhut, sebagai negara kepulauan atau negara pulau, baik besar maupun kecil jumlah populasinya memiliki tantangan yang sama.
“Indonesia telah kehilangan banyak penduduk serta pesisir pantainya karena naiknya permukaan laut maupun bencana alam seperti tsunami, oleh karena itu saya mengajak semua negara kepulauan maupun negara pulau untuk bekerjasama melalui sebuah forum,”sebut Menko Luhut.
Melalui forum tersebut, dia berharap ada pertukaran ilmu dan pengalaman serta melakukan pelatihan bersama dalam pengelolaan laut. Agar forum tersebut dapat menghasilkan solusi yang nyata, Menko mengharapkan agar pejabat pemerintah, peneliti, pihak swasta serta komunitas masyarakat ikut bergabung.
Berita Terkait
-
Luhut: Ada Rencana Aksi Nasional Untuk Atasi sampah Plastik Laut
-
Luhut: Sampah Laut Akibatkan Kerugian Ekonomi 1,2 Miliar Dolar AS
-
Luhut Terpilih Jadi Wakil Presiden Konferensi Kelautan Dunia PBB
-
Luhut: Masalah Sampah Plastik di Laut Berujung ke Aksi Terorisme
-
Luhut Teken MoU Kerjasama Bilateral Maritim Dengan Jerman
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas
-
Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z
-
Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar
-
Pasokan Aman, Bahlil Sebut Jangan Salahkan Batu Bara, Itu Teknis PLN
-
Indonesia dan Italia Sepakat Kerja Sama Pengembangan Kapal Angkatan Laut
-
Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan
-
Gaji Rp14 Juta Bisa Beli Rumah Subsidi Bebas Pajak! Simak Aturan Terbarunya
-
Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan
-
MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni
-
Promosikan Platform Investasi Ilegal, Sejumlah Influencer Dijewer Satgas PASTI