Kondisi fundamental makro saat ini bagus, tapi situasi di sector mikro (sektor riil) terlihat sebaliknya. Hasil penjualan semester I, sejumlah sektor turun atau di bawah target, seperti ritel, semen, otomotif, dan lain sebagainya. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mencari jalan keluar dan solusi mengatasi kontradiksi makro dan mikro ini.
Anggota komisi XI DPR RI M. Sarmuji berpandangan, memang agak membingungkan melihat kondisi tersebut. Data perekonomian seolah ada anomali antara makro ekonomi dan mikro ekonomi. Penyebabnya belum tentu karena daya beli rendah. Sebabnya, kalau terjadi penurunan daya beli biasanya dikarenakan terjadi inflasi yang tinggi.
Menurut Sarmuji, kondisi demikian bisa jadi juga disebabkan karena masyarakat menahan diri untuk belanja, karena kemungkinan pengeluaran yang lebih tinggi di belakang hari atau karena kepercayaan terhadap prospek penghasilan yang berkurang. Demikian juga dengan inflasi yang rendah bisa diakibatkan penurunan daya beli atau karena masyarakat menahan diri karena ekspektasi pengeluaran yang lebih tinggi.
“Pemerintah harus memberikan insentif untuk memperkuat daya beli utamanya pada masyarakat dengan penghasilan rendah,” kata Sarmuji di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (1/8/2017).
Dikatakan Sarmuji, momentum ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk memperkecil kesenjangan dan kemiskinan. Dalam konteks itu, lanjut dia, pemerintah perlu memperkuat program padat karya dan menamabah pemberian subsidi langsung kepada masyarakat yang berhak menerima.
“Program pembangunan infrastruktur sebaiknya direlaksasi agar liquiditas di sektor keuangan tidak terserap secara dominan ke sektor tersebut. Sehingga bisa digunakan untuk menggerakkan sektor produksi dan konsumsi,” ujar politisi Golkar itu.
Sarmuji mengatakan, Pemerintah juga perlu mendorong ekspor agar sektor produksi dalam negeri memiliki pangsa alternatif yang lebih baik. Pada gilirannya jika produksi dapat terserap di pasar luar negeri, perekonomian dalam negeri juga akan membaik.
Lebih lanjut menurutnya, sektor wisata juga harus terus ditingkatkan agar lebih menarik kunjungan wisatawan luar negeri.
Baca Juga: Subsidi Perumahan Jaga Daya Beli MBR untuk Miliki Rumah Layak
“Sektor pariwisata akan memberikan efek berganda terutama tumbuhnya ekonomi kreatif. Sektor ini juga tidak terpengaruh dengan kelesuan ekonomi mikro dalam negeri,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Pemerintah Akan Larang Alih Fungsi Sawah, Sedang Siapkan Sanksi
-
Mentan Optimistis Stok Pangan Aman Hadapi Fenomena El Nino Godzilla
-
Beredar Info Harga Pertamax Tembus Rp17.850 per Liter 1 April, Pertamina: Belum Pasti
-
Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang
-
Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko
-
Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia
-
Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam
-
RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea
-
Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina