Suara.com - Di era yang semakin maju saat ini, penggunaan uang elektronik semakin mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga terlihat berdasarkan data Bank Indonesia dimana penggunaan uang elektronik sepanjang 2017 melonjak sekitar 163 persen, bahkan nilai nominal transaksinya mencapai Rp 2 triliun per bulan.
Tanpa kita sadari, perubahan digitalisasi ekonomi telah merevolusi sendi-sendi kehidupan manusia.
Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah kehadiran perusahaan berbasis aplikasi yang menawarkan jasa pengiriman paket, pemesanan makanan, pembersih rumah, pijat atau penyediaan jasa lainnya.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng mengungkapkan, kemajuan ini juga memiliki tantangan bagi layanan ekonomi digital Indonesia. Menurut Sugeng, setidaknya ada empat tantangan yang harus dihadapi dan diwaspadai.
Menurut Sugung, tantangan pertama adalah masakav cyber security. Dimana semua perusahaan financial technology harus mewaspadai ini.
“Misalnya ransomware (virus yang mengunci file) yang minta tebusan dari bitcoin. Itulah kenapa posisi kita tegas melarang bitcoin jadi alat pembayaran. Jangan sampai masyarakat merasa dirugikan,” kata Sugeng dalam diskusi di Jakarta, Rabu (4/4/2018).
Kedua, lanjut Sugeng, adalah fragmentasi industri, industri mulai berinovasi teknologi digital tapi tidak terhubung satu sama lain. Ini menyebabkan inefisiensi dan menyulitkan masyarakat dalam melakukan transaksi digital.
“Contohnya kartu tol. Dulu hanya bisa pakai Bank Mandiri. Ada juga yang khusus BCA saja. Sekarang semua bisa terkoneksi satu sama lain, ini kan meningkatkan efesiensi,” ujarnya.
Ketiga adalah daya saing. Sugeng menilai, pertumbuhan e-commerce saat ini belum bisa mendukung penjualan barang lokal. Saat ini masih didominasi impor dari Cina karena murah. Selain itu, posisi kedua barang impor dari Singapura dan Jepang.
Baca Juga: OJK: Tanpa Adanya Perbankan, Fintech Tidak Mungkin Berjalan
“Yang keempat adalah soal layanan ekonomi digital juga rawan jadi praktik pencucian uang dan pendanaan terorisme. Kami meminta hal ini juga perlu diwaspadai pelaku jasa keuangan teknologi,” kata Sugeng.
Berita Terkait
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Rupiah Guncang, Bunga Melejit: Siap-Siap Dompet Masuk UGD
-
Anjlok! Rupiah Nyaris Tembus Rp17.800! Isu Domestik Sudah Tak Terbendung
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Pertumbuhan Uang Beredar Agak Tersendat, April Hanya Rp 10.253,7 Triliun
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran
-
Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah
-
Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%
-
Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran
-
Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru