Bisnis / Makro
Selasa, 14 Juli 2026 | 08:48 WIB
Ilustrasi peringkat utang Indonesia. [Ist]
Baca 10 detik
  • Lembaga R&I mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB+ dengan outlook stabil karena fundamental ekonomi yang kuat.
  • Keputusan tersebut didasari oleh terkendalinya inflasi, rendahnya rasio utang pemerintah, serta kebijakan fiskal dan moneter yang disiplin.
  • Gubernur Bank Indonesia menyatakan pengakuan ini mencerminkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan ketahanan sistem keuangan nasional.

Suara.com - Peringkat utang Indonesia kembali mendapat pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional. Rating and Investment Information, Inc. (R&I) mempertahankan Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia di level BBB+ dengan outlook stabil, atau dua tingkat di atas kategori investment grade.

Keputusan tersebut menjadi sinyal positif bahwa fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

R&I dalam kajiannya menilai ekonomi Indonesia masih didukung oleh ekspansi demografi, melimpahnya sumber daya alam, serta pertumbuhan sektor industri pengolahan.

Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan, penegasan peringkat dari R&I mencerminkan tingginya kepercayaan investor dan komunitas internasional terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia serta ketahanan sistem keuangan nasional.

"Diperlukan upaya bersama yang lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan, sejalan dengan kapasitas perekonomian nasional. Sinergi yang erat antara Bank Indonesia dengan Pemerintah diharapkan dapat semakin memperkuat persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia," jelas Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam siaran pers yang diterima, Selasa (14/7/2026).

(Kiri-Kanan) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi. [Suara.com/Dicky Prastya]

Selain itu, lembaga tersebut menilai inflasi tetap terkendali, rasio utang pemerintah berada pada level rendah, serta kebijakan moneter dan fiskal dijalankan secara hati-hati (prudent).

Meski demikian, R&I menilai langkah pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tetap perlu diimbangi dengan upaya menjaga kesehatan fiskal dalam jangka menengah.

Apalagi, capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah bersama Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.

Dalam laporannya, R&I memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran lima persen, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang berada di atas titik tengah kisaran 4,6 persen hingga 5,4 persen.

Baca Juga: Penjualan Eceran Juni 2026 Turun Tipis, BI Pastikan Konsumsi Rumah Tangga Masih Solid

Lembaga pemeringkat asal Jepang tersebut juga memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan otoritas moneter.

Selain itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah, yakni sekitar satu persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Dari sisi fiskal, pemerintah dinilai memiliki komitmen yang kuat untuk mempertahankan defisit anggaran di bawah tiga persen terhadap PDB sesuai dengan ketentuan fiskal yang berlaku.

Bank Indonesia menilai kombinasi stabilitas inflasi, pengelolaan fiskal yang disiplin, serta koordinasi kebijakan yang erat dengan pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga kepercayaan lembaga pemeringkat global terhadap prospek ekonomi Indonesia.

BI juga akan mengambil langkah kebijakan yang diperlukan serta memperkuat sinergi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

"Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan ekonomi Indonesia dan kondisi pasar keuangan global secara cermat," tandasnya.

Load More