Suara.com - Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, menyatakan, pemerintah selalu berusaha mencari jalan keluar, agar petani bisa menanam dan memanen padi lebih banyak. Selama ini, petani di lahan rawa selalu merasa puas dengan hasil tanam padi yang dilakukan setahun sekali.
Saat musim hujan, area sawah selalu tergenang air, sehingga tak mungkin ditanami padi. Sebaliknya, saat musim kemarau, lahan rawa menjadi kering.
Menurut Sarwo, prinsip dalam pengelolaan lahan rawa adalah tata kelola irigasi. Menurutnya, prinsin tersebut dapat mengatasi kekurangan air (air baku pertanian) pada musim kemarau. Begitu juga saat musim hujan, bisa membuang kelebihan air, sehingga mampu memproteksi lahan dari genangan banjir.
“Secara operasional bisa melakukan sirkulasi untuk mengatasi masalah kualitas air,” katanya, dalam "Diskusi Program Serasi, Solusi Meningkatkan Produksi Pangan", yang digelar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di Jakarta, Rabu (24/4/2019).
Beberapa kegiatan yang pemerintah lakukan dalam optimasi lahan rawa adalah survei investigasi desain (SID) sederhana terhadap potensi lahan rawa dan rehabilitasi jaringan irigasi.
“Kita lebih banyak bergerak di jaringan tersier, karen irigasi sekunder dan primer, ada di Kementerian PUPR. Kita di jalur yang seusai peraturan, seperti yang diamanatkan Kementan,” katanya.
Untuk tata kelola air ini, ungkap Sarwo, pemerintah melakukan perbaikan dan pembangunan polder melalui upaya penambahan tinggi polder atau tanggul besar dan tanggul kecil pembatas lahan. Kegiatan lainnya adalah merehabilitasi dan membangun pintu air pada saluran irigasi.
“Kita juga merehabilitasi dan normalisasi saluran irigasi tersier, saluran pembagi, storage atau kolektor, dan saluran pembuang (drainase),” ujarnya.
Pemerintah juga memberikan bantuan pompa air, pengadaan pip dan gorong-gorong, pengolahan lahan, dan bantuan alat dan mesin pertanian.
Baca Juga: Tahun Ini Program Serasi Kementan Difokuskan di Tiga Provinsi
“Melalui tanaman pangan, kita bantu sarana produksi, benih, pupuk, dolomit dan herbisida,” tambah Sarwo.
Sementara itu, Setditjen Tanaman Pangan, Bambang Pamudji mengatakan, pihaknya lebih banyak pada kegiatan bantuan saran produksi, seperti benih, pupuk dan dolomit herbisida. Tiap hektare lahan rawa mendapatkan bantuan benih 80 kilogram.
Jumlah tersebut lebih banyak dari budi daya di lahan irigasi, karena pola tanamnya menggunakan sistem tebar. Adapun untuk bantuan dolomit sebanyak 1.000 kilogram per hektare dan herbisiada 5 liter per hektare.
“Benih yang kita berikan disesuaikan dengan kondisi rawa. Dolomit yang memiliki kekasaran 80, sedangkan herbisida biasa di lahan rawa,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim