Suara.com - Banyaknya warga mampu yang menikmati gas elpiji tiga kilogram sudah terjadi sejak lama di Kota Solo, Jawa Tengah.
Konsumsi gas subsidi yang tidak tepat sasaran ini tersebut diakui seorang pemilik pangkalan gas melon Iwan (30). Diakui Iwan, selama ini sulit untuk membatasi pembelian gas elpiji tiga kilogram.
"Sebenarnya dari agen sudah memerintahkan kalau pembeli gas subsidi harus memenuhi beberapa syarat. Salah satunya adalah menunjukkan KTP," terang Iwan saat ditemui Suara.com di pangkalannya yang ada di jalan MT Haryono, Solo, Jumat (28/6/2019).
Tetapi, lanjut Iwan, dalam praktiknya hal itu sulit dilakukan. Terlebih, selama ini pembeli gas tiga kilogram kebanyakan tetangganya sendiri.
"Kalau membeli gas tiga kilogram harus menunjukkan KTP kan lama-lama sungkan juga. Lagian kan juga sudah saling mngenal," katanya.
Selain menunjukkan KTP, Iwan mengatakan, ada juga syarat lain yakni mengisi data pembelian. Data ini dibuat sebuah buku yang nantinya dijadikan sebagai laporan ke agen.
"Kalau saya laporannya direkap setiap satu bulan sekali. Tapi banyak yang harus diubah, karena susah juga kalau harus minta tanda tangan pembeli, mendatanya. Banyak yang tidak mau," ungkapnya.
Iwan pun akhinya tidak bisa melakukan pendataan secara rutin. Hal inilah yang membuat dirinya sering mendapatkan teguran dari agen yang menaunginya.
"Sering ditegur juga diingatkan terus agar tertib dalam melakukan pendataan. Kalau tidak ancamannya tidak lagi disetori," pungkasnya.
Baca Juga: Pemkot Solo Masih Pergoki Rumah Makan Gunakan Gas Bersubsidi
Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) menggelar sidak penggunaan gas LPG subsidi 3 Kg bersama jajaran Dinas Perindustrian dan Kepolisian Resor Solo. Sidak dilakukan di beberapa rumah makan yang berlokasi di Kota Solo, Jawa Tengah.
Sales Executive LPG Pertamina MOR IV wilayah Soloraya, Adeka Sangtraga mengatakan, dari hasil sidak ditemukan rata-rata konsumsi gas LPG bersubsidi 3 kg lebih dari 300 tabung setiap minggunya.
Jumlah ini setara dengan 3,6 Metric Ton (MT) per bulan dari beberapa rumah makan dan restoran yang dijumpai di Kota solo.
"Saat ini konsumsi LPG terutama yang bersubsidi di Kota Solo mencapai 2.300 MT per bulan atau setara dengan 760 ribu tabung setiap bulannya, jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat," ujar Adeka dari keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Kamis (27/6/2019) kemarin.
Kontributor : Ari Purnomo
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Miris! 30 Persen Gaji Masyarakat untuk Bayar Ongkos Transportasi
-
Soal Kenaikan DMO, Bahlil: Kebutuhan Dalam Negeri Harus Dipenuhi Dulu
-
Pengusaha IHT Minta Pemerintah Membina, Bukan Binasakan Industri Tembakau
-
Bahlil: Realisasi Investasi Sektor ESDM Investasi Turun, PNBP Gagal Capai Target
-
Timothy Ronald dan Akademi Crypto Mendadak Viral, Apa Penyebabnya
-
Indonesia Raih Posisi Runner-up di Thailand, BRI Salurkan Bonus Atlet SEA Games 2025
-
Fenomena Demam Saham Asuransi Awal 2026, Kesempatan atau Jebakan Bandar?
-
IATA Awali Operasional Tambang di Musi Banyuasin, Gandeng Unit UNTR
-
Realisasi PNBP Migas Jauh dari Target, Ini Alasan Bahlil
-
APBN Tekor Hampir 3 Persen, Dalih Purbaya: Saya Buat Nol Defisit Bisa, Tapi Ekonomi Morat-marit