Sudah tidak betah, namun mencoba bertahan dan berharap akan diberhentikan oleh perusahaan sehingga bisa mendapatkan sejumlah pesangon. Pemikiran ini tentu cukup naif, apalagi jika ternyata kondisi perusahaan masih dalam keadaan baik-baik saja.
Meski perusahaan dalam kondisi yang tidak terlalu sehat sekali pun, alasan menunggu pesangon seperti ini tentu tak bisa diharapkan. Bisa saja perusahaan masih akan tetap berjalan, meskipun Anda bertahan hingga satu tahun ke depan dan membuang kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang labih baik.
4. Tak Ingin Dianggap sebagai Kutu Loncat
Keinginan resign saat belum bekerja setahun penuh merupakan hal yang banyak dihindari. Sebab, kebanyakan orang tak ingin dicap sebagai kutu loncat. Dalam wawancara di calon perusahaan baru, menjawab pertanyaan terkait alasan resign, kerap menjadi hal yang sulit dan tidak menyenangkan.
Sebab, pewawancara bisa saja beranggapan jika Anda adalah orang yang tidak berkomitmen pada perusahaan. Di lain sisi, keputusan resign seperti ini juga akan membuat Anda sulit memberikan alasan kepada perusahaan yang lama.
5. Punya Atasan yang Baik dan Menyenangkan
Memiliki atasan yang bersikap baik memang hal yang menyenangkan, apalagi jika yang bersangkutan bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Rasa nyaman seperti ini akan membuat Anda sulit untuk meninggalkan perusahaan, meskipun pada kenyataannya Anda sudah tidak betah dalam menangani berbagai pekerjaan di sana.
7. Galau dengan Tawaran Kenaikan Gaji
Sudah bersiap-siap untuk resign, namun tiba-tiba perusahaan menawarkan sejumlah kenaikan gaji yang lebih besar? Biasanya kalau begini, Anda akan jadi kian sulit meninggalkan perusahaan, lantaran di tempat yang baru juga belum tentu akan menyenangkan dan mendapatkan gaji yang besar.
Baca Juga: Demi Jadi Putri Duyung, Wanita Ini Rela Resign Kerja
Biar Tak Berlama-lama Galau, Pertimbangkan Hal-hal Berikut
Berbagai kondisi kerap menjadi penghalang Anda untuk resign dari perusahaan, meskipun pada dasarnya sudah tidak betah. Namun sebelum mengambil keputusan untuk bertahan atau pindah, pastikan Anda mempertimbangkan dengan baik hal-hal penting berikut ini:
1. Prospek Perusahaan yang Baru
Penting untuk mengetahui secara detail prospek perusahaan baru yang akan dijadikan tempat meniti karier. Sebab hal ini juga berhubungan dengan kesuksesan dan karier Anda di masa yang akan datang.
Carilah informasi yang akurat terlebih dahulu, terkait dengan perkembangan dan hal lainnya yang Anda butuhkan sebagai pertimbangan. Sehingga Anda bisa mengambil keputusan yang tepat sehubungan rencana kepindahan Anda ke kantor baru.
2. Gaji dan Benefit Lainnya yang Bisa Didapatkan
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Daftar 70 Saham Force Delisting Awal 2026, Ada Emiten Sejuta Umat dan BUMN
-
Tarif Listrik Tidak Naik Hingga Maret 2026
-
8,23 Juta Penumpang Pesawat Wara-wiri di Bandara Selama Awal Nataru
-
Perhatian! Tarif Listrik Januari-Maret 2026 Tak Naik
-
Bea Keluar Batu Bara Belum Berlaku 1 Januari 2026, Ini Bocoran Purbaya
-
Tak Hanya Huntara, Bos Danantara Jamin Bakal Bangun Hunian Permanen Buat Korban Banjir
-
Purbaya Kesal UU Cipta Kerja Untungkan Pengusaha Batu Bara Tapi Rugikan Negara
-
Pembangunan 600 Huntara di Aceh Tamiah Rampung, Bisa Dihuni Korban Banjir
-
Diizinkan DPR, Purbaya Bakal Cawe-cawe Pantau Anggaran Kementerian-Lembaga 2026
-
Prediksi Harga Bitcoin dan Ethereum Tahun 2026 Menurut AI