Suara.com - Wakil Ketua Fraksi PKS, Mulyanto mengingatkan, usai dilantik sebagai Presiden periode kedua sebaiknya Jokowi lebih memperhatikan tiga PR besar yang belum selesai di periode sebelumnya. Pertama, kata Mulyanto, soal pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi kita pada periode sebelumnya baru mencapai 5%, masih jauh dari target RPJMN yaitu 8%. Angka pertumbuhan itu terutama masih didorong oleh sektor pertanian dan jasa. Sementara sektor industri hanya tumbuh 4% dengan kontribusi terhadap PDB di bawah 20%,” kata Mulyanto dalam keterangannya, Minggu (20/10/2019).
Kedua, soal gini rasio atau ketimpangan ekonomi di masyarakat. Meskipun nilai gini rasio tahun 2019 sesuai dengan target RPJMN 2014-2019 yaitu di bawah 0,4 tapi masyarakat masih dapat merasakan adanya ketimpangan yang luas.
“Kita jangan cepat puas dengan angka karena faktanya ketimpangan dapat dilihat secara kasat mata. Angka 0,4 itu kan hanya diukur pada aspek konsumsi tidak mencakup aspek pendapatan dan kekayaan,” ujar Mulyanto.
Menurut data Global Wealth Report 2018 Credit Suisse, kata Mulyanto, pada tahun 2018, 1% penduduk di Indonesia memiliki kekayaan sebesar 47% dari total kekayaan Indonesia. Sementara kekayaan 99% penduduk Indonesia hanya senilai 53% dari total kekayaan Indonesia.
“Kondisi ini sangat buruk dan benar-benar harus dapat diselesaikan,” kata doktor lulusan Jepang ini.
“Kita tetap harus waspada terhadap ketimpangan kekayaan, ketimpangan lahan, ketimpangan spasial Jawa-Luar Jawa, dan lain-lain,” tambahnya.
Dan PR ketiga yang perlu diperhatikan Jokowi menurut Mulyanto, soal pembangunan SDM dan Inovasi Teknologi. Mulyanto mengutip laporan GCI 2019 dari World Economic Forum, daya saing Indonesia melorot dari posisi 45 menjadi posisi 50.
Sedangkan berdasarkan data Global Innovation Index WIPO tahun 2019, Indeks Inovasi kita hanya 29.72, jauh di bawah Thailand (38.63), Vietnam (38.84), bahkan Philipina (36.18).
Baca Juga: Janji Pertama Jokowi Usai Dilantik Jadi Presiden RI 2019-2024
“Pembangunan kita masih bertumpu pada sektor primer pertanian, yang mengandalkan keunggulan komparatif dan belum mengandalkan pada produk berkandungan teknologi, yang berbasis keunggulan kompetitif,” jelas Mulyanto.
Mulyanto mendorong agar ke depannya Pemerintah dapat memperkokoh Sistem Inovasi Nasional, suatu sistem yang dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi, yang berbasiskan SDM yang berkemampuan inovasi.
“Ini adalah jalan yang harus ditapaki Indonesia ke depan. Tidak ada pilihan lain, karena kejayaan sumber daya alam sudah lewat. Untuk beberapa komoditas kita sudah net importer. Mudah-mudahan kita tidak terkena kutukan sumber daya alam, terlena pada kekayaan alam kita yang ada, sehingga lupa membangun kemampuan SDM dan teknologi. Inilah Politik Inovasi,” pungkas Mulyanto.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Perang AS-Iran Bisa Picu Penguatan?
-
Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong
-
Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI
-
Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus
-
Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco
-
Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris
-
Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?
-
Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?
-
Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris
-
Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam