- Moody's mengubah prospek kredit Indonesia menjadi "Negatif" meskipun peringkat Baa2 tetap layak investasi.
- Pemerintah meyakini ekonomi kuat didukung pertumbuhan PDB 5,11% sepanjang 2025 dan defisit APBN terkendali.
- Reformasi tata kelola diwujudkan melalui pembentukan BPI Danantara dan peningkatan standar bursa efektif Maret 2026.
Suara.com - Pemerintah meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tetap tenang menyikapi keputusan Moody’s Investors Service yang mengubah prospek (outlook) peringkat kredit Indonesia dari "Stabil" menjadi "Negatif".
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa indikator ekonomi nasional saat ini masih berada dalam jalur yang sangat kuat dan sehat.
Meski outlook berubah, Moody’s tetap mengukuhkan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2 atau kategori layak investasi (investment grade).
Afirmasi ini menjadi bukti bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga, didukung oleh kekayaan sumber daya alam, struktur demografi yang progresif, serta manajemen kebijakan fiskal dan moneter yang sangat disiplin.
Keyakinan pemerintah didasarkan pada data makroekonomi terbaru yang menunjukkan performa positif. Sepanjang tahun 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,11 persen.
Bahkan, pada kuartal IV-2025, angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 5,39 persen, yang merupakan rekor tertinggi sejak berakhirnya pandemi Covid-19.
Dari sisi kesehatan anggaran, pemerintah memastikan kedisiplinan fiskal tetap terjaga:
Defisit Anggaran: Realisasi defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92 persen, dan pada APBN 2026 ditargetkan menurun ke angka 2,68 persen terhadap PDB.
Rasio Utang: Berada di kisaran 40 persen terhadap PDB, level yang dinilai masih aman dan terkendali oleh standar internasional.
Baca Juga: Tak Ambil Pusing Soal Outlook Peringkat Moody's, Airlangga: Indonesia Tetap Investment Grade
Terkait kekhawatiran Moody’s terkait tata kelola, pemerintah telah meresmikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Melalui UU Nomor 1 Tahun 2025 dan UU Nomor 16 Tahun 2025, Danantara resmi memisahkan fungsi regulasi dan operasional BUMN guna meningkatkan profesionalisme.
"Kami yakin implementasi kelembagaan ini akan menjawab kekhawatiran global. Danantara akan mendukung pembiayaan pembangunan secara terukur, sementara APBN tetap fokus pada program prioritas nasional," ujar Haryo dalam keterangan resminya, Minggu (8/2/2026).
Salah satu program prioritas yang dibiayai APBN adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah juga tengah mempercepat reformasi di lantai bursa melalui sinergi dengan OJK dan Bursa Efek Indonesia. Langkah-langkah strategis yang dijadwalkan rampung pada Maret 2026 meliputi:
Free Float: Peningkatan batas minimum saham publik menjadi 15 persen.
Transparansi: Penguatan keterbukaan informasi mengenai ultimate beneficial ownership (pemilik manfaat akhir).
Integritas: Percepatan demutualisasi bursa guna memperkuat tata kelola pasar modal sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menutup keterangannya, Haryo menekankan pentingnya komunikasi dua arah. Sesuai arahan Menko Airlangga Hartarto, pihak Danantara dan perbankan Indonesia diminta aktif memberikan penjelasan mengenai arah kebijakan fiskal dan moneter kepada lembaga pemeringkat internasional untuk menjaga kredibilitas Indonesia di mata dunia.
Berita Terkait
-
Di Balik Tekanan Menikah: Ada Kecemasan Ekonomi Orang Tua
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
-
Outlook Negatif Moodys Jadi Alarm Keras, PDIP Soroti Arah Kebijakan Ekonomi Pemerintah
-
Purbaya Klaim Indonesia Masih Mampu Bayar Utang Meski Rating Moody's Negatif
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun