Bisnis / Energi
Minggu, 08 Februari 2026 | 16:19 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto Fakhri-Suara.com
Baca 10 detik
  • Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto membuka ABAC Meeting I 2026 di Jakarta pada 7 Februari 2026.
  • Ia menekankan integrasi ekonomi kawasan dan reformasi struktural adalah fondasi stabilitas Asia-Pasifik saat ini.
  • Indonesia menunjukkan resiliensi ekonomi 2025 dengan PDB tumbuh 5,39% serta fokus agenda reformasi struktural APEC 2026–2030.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa integrasi ekonomi kawasan dan reformasi struktural yang mendalam adalah fondasi utama bagi stabilitas Asia-Pasifik di tengah ketidakpastian global.

Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan Opening Ceremony APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Airlangga, dinamika ekonomi internasional saat ini menuntut negara-negara untuk tidak sekadar mengejar pemulihan pascapandemi, melainkan melakukan transformasi fundamental yang berkelanjutan.

Dalam pidatonya, Airlangga menyoroti bahwa kekuatan ekonomi regional terletak pada seberapa erat kolaborasi dan integrasi antarnegara anggota APEC.

Fokus utama pada tahun 2026 ini adalah "Mempercepat Pertumbuhan Inklusif Regional Melalui Reformasi Struktural".

"Kita berada pada titik di mana lanskap ekonomi dunia menuntut perubahan besar. Kekuatan kita dalam menavigasi tantangan ini terletak pada sejauh mana kita terintegrasi secara ekonomi," tegas Airlangga dalam keterangan resminya, Minggu (8/2/2026).

Menko Airlangga juga memaparkan bukti nyata resiliensi ekonomi Indonesia yang tetap kokoh di jajaran anggota APEC. Keberhasilan ini diklaim sebagai buah dari kebijakan yang kredibel dan konsisten.

Berikut adalah beberapa indikator performa ekonomi dan sosial Indonesia sepanjang 2025:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Pada kuartal IV-2025, PDB Indonesia melesat 5,39 persen (yoy), dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 5,11 persen.
  • Indikator Sosial: Angka kemiskinan berhasil ditekan hingga ke level 8,5 persen, sementara tingkat pengangguran stabil di angka 4,9 persen.
  • Kualitas SDM: Terjadi perbaikan signifikan pada rasio ketimpangan (Gini Ratio) serta peningkatan skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Airlangga menyebutkan bahwa hasil ini dicapai melalui bauran kebijakan yang terkoordinasi lintas sektor serta komunikasi publik yang transparan untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha.

Baca Juga: Siapa yang Meminta Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI?

Menatap masa depan, Indonesia secara aktif mendorong Agenda Reformasi Struktural APEC untuk periode 2026–2030. Agenda strategis ini berfokus pada tiga pilar utama:

Persaingan Usaha: Menciptakan iklim bisnis yang sehat dan kompetitif.

Digitalisasi & Inovasi: Mempercepat adaptasi teknologi digital di seluruh sektor ekonomi.

Pemberdayaan Ekonomi: Memastikan pelaku usaha kecil dan menengah ikut merasakan dampak pertumbuhan regional.

Upaya ini selaras dengan komitmen Indonesia terhadap sistem perdagangan multilateral yang terbuka dan inklusif di bawah naungan World Trade Organization (WTO).

Sebagai penutup, Airlangga mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah yang brilian tidak akan berdampak maksimal tanpa dukungan dunia usaha. Kolaborasi erat antara regulator dan sektor swasta adalah satu-satunya cara untuk mengubah gagasan besar menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada produktivitas kawasan.

Load More