Bisnis / Makro
Senin, 11 November 2019 | 22:37 WIB
Ilustrasi

Suara.com - Pertumbuhan industri makanan dan minuman pada akhir tahun 2019 diperkirakan akan sulit mencapai target yang ditetapkan pemerintah sebesar 8 persen. Pasalnya, sepanjang tahun ini pertumbuhannya baru 7,72 persen.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengungkapkan, kelesuan yang terjadi pada industri mamin dikarenakan banyak kalangan pengusaha yang menunggu akibat dinamika politik dan kondisi ekonomi fluktuatif.

"Pertumbuhan industri makanan minuman masih cukup bagus. Sampai September pertumbuhannya 7,72 persen. Kenapa masih di bawah target sebesar 8 persen? Nah, pada semester satu kita tahu kemarin ramai pileg dan pilpres sehingga investor itu agak sedikit menunda," kata Rochim saat ditemui di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Rochim mengakui, bahwa saat ini dinamika ekonomi global sedang lesu sehingga juga berimbas pada kegiatan ekonomi dalam negeri.

Meski lesu, lanjut Rochim, biasanya setelah kuartal III 2019, pertumbuhan industri mamin akan kembali bergairah, karena diperkirakan konsumsi masyarakat akan lebih tinggi.

Berdasarkan catatan Rochim, sepanjang kuartal III 2019 ini pertumbuhan industri mamin sudah mencapai 8,33 persen, angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 8,10 persen.

"Kita tahu pertumbuhan setelah semester 1 cukup mulai memperlihatkan pertumbuhan yang cukup signifikan," kata Rochim.

Load More