- Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pelemahan rupiah di Jakarta pada Mei 2026 dipicu tekanan kondisi ekonomi global.
- Faktor penyebab mencakup kenaikan suku bunga Amerika Serikat, tensi geopolitik, serta tingginya kebutuhan valuta asing domestik musiman.
- Bank Indonesia melakukan intervensi pasar secara maksimal dan memperkuat koordinasi pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan terus berada di pasar dalam menjaga rupiah. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyebutkan pelemahan mata uang Garuda disebabkan oleh faktor tekanan global.
Menurutnya, pelemahan mata uang merupakan fenomena global yang dialami oleh hampir seluruh negara di dunia.
Menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia berkomitmen melakukan langkah intervensi secara all out, guna menjaga stabilitas pasar dan memastikan volatilitas tetap terkendali demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Seluruh mata uang dunia itu melemah. Nah kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out tadi loh. Nah, kenapa rupiah itu melemah nilai tukar negara lain juga melemah? Yaitu faktor global," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang cukup berat, mulai dari lonjakan harga minyak hingga tensi geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, kenaikan suku bunga AS yang mencapai level 4,41 persen telah memperkasa posisi dolar AS di pasar global.
"Kondisi ini memicu terjadinya aliran modal keluar atau outflow investasi asing dari negara-negara pasar berkembang (emerging markets), yang secara langsung berdampak pada fluktuasi nilai tukar di berbagai wilayah," ungkapnya.
Selain faktor global, terdapat faktor musiman domestik yang terjadi pada periode April dan Mei, di mana permintaan valuta asing (valas) cenderung meningkat.
Kebutuhan valas ini meningkat seiring dengan tingginya aktivitas masyarakat untuk ibadah Umrah dan persiapan keberangkatan Haji dan juga banyak korporask melakukan pembayaran utang luar negeri.
Baca Juga: Bos BI Jamin Cadangan Devisa Tak Akan Goyah untuk Intervensi Rupiah
"Di saat yang sama, korporasi juga banyak melakukan repatriasi dividen serta pembayaran utang luar negeri, baik untuk pokok maupun bunga, yang menambah tekanan terhadap permintaan dolar," jelasnya.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Perry Warjiyo memastikan bahwa Bank Indonesia tetap siaga di pasar untuk menjaga stabilitas kurs Rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter yang tersedia.
BI juga terus memperkuat koordinasi pemerintah secara erat dan melaporkan perkembangan secara rutin kepada Presiden untuk memastikan dukungan penuh dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia dari dampak ketidakpastian global.
Berita Terkait
-
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya
-
Apa Saja Dampak Pelemahan Rupiah?
-
Rupiah Keok ke Rp17.410, Subsidi Energi Jebol Rp118 Triliun
-
Nilai Tukar Rupiah Diramal Bisa Terus Melemah Hingga ke Level Rp 17.550/USD
-
Rupiah Tembus Rp17.437, Bank Indonesia : Semua Mata Uang Negara Berkembang Melemah
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah
-
Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?