Suara.com - Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mempermasalahkan pembangunan Simpang Susun Semanggi yang digadang-gadang sebagai keberhasilan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga membantah hal itu.
Perdebatan antara Marwan Batubara dan Arya Sinulingga terjadi dalam acara ILC TV One bertema "Bisakah Ahok Membasmi Mafia Migas?" yang tayang Selasa (26/11/2019) malam.
Marwan merasa Ahok telah melanggar prinsip tata kelola keuangan ketika proses pembangunan Simpang Susun Semanggi. Sehingga membuat Ahok tidak layak masuk dalam jabatan penting di BUMN.
"Ahok melanggar prinsip-prinsip tata kelola keuangan, terutama bicara tentang anggaran yang off budget. Ini saya kira melanggar Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara kemudian Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara," kata Marwan.
Ia kemudian menyinggung pembangunan Simpang Susun Semanggi. Menurut Marwan itu melanggar aturan.
"Ada kasus denda terhadap tinggi bangunan kemudian ini bisa digunakan untuk infrastruktur, sanksi pelanggaran ini lalu dipakai misalnya untuk lintas Susun Semanggi. Ahok menepuk dada bahwa berhasil membangun Simpang Susun ini tanpa uang APBD. Tapi ini jelas melanggar," tutur Marwan.
"Tadi saya sebutkan, tidak boleh lagi ada pembangunan atau spending pemerintah pusat atau daerah dengan pengelolaan keuangan yang off budget," imbuhnya.
Pernyataan itu dibantah oleh Arya Sinulingga. Ia menganggap Marwan hanya berhalusinasi.
"Tadi semua yang dikatakan oleh Bang Marwan tadi adalah halusinasinya bang Marwan. Bagi kaum milenial Bang Marwan dalam kondisi halu, nah ini yang berbahaya kalau sudah dalam kondisi halusinasi," ujar Arya.
Baca Juga: Ini Pengakuan Pedagang Shopping Center Usai Buku Bajakannya Disita Polisi
Ia kemudian membalas argumen Marwan soal pembangunan Simpang Susun Semanggi.
"Kontraktornya Simpang Susun, Bang Marwan tahu enggak kontraktornya? Itu BUMN bos. Artinya negara-negara juga yang mengerjakannya bukan pihak swasta," ujarnya.
Menurut Arya, tidak perlu ada rasa curiga karena yang mengerjakan proyek Simpang Susun Semanggi itu adalah BUMN.
"Jadi tadi kalau dikatakan bahwa coba dihitung biayanya, silahkan hitung, jangan-jangan enggak sesuai dengan nilai denda itu, enggak mungkin. Kalau dari swasta boleh curiga, mungkin ada kong kalikong, ini dengan BUMN juga kok, yang untung juga BUMN, punya negara juga," imbuhnya.
Tidak puas dengan jawaban Arya, Marwan kemudian membalas.
"Saya kira, silahkan saja Pak Arya mengatakan seperti itu karena beliau harus mengatakan seperti itu, sebagai staf Menteri BUMN dan itu juga di bawah kendali Pak Jokowi mungkin juga Ahok," balas Marwan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat