Suara.com - Meluasnya wabah virus Covid-19 di Indonesia yang terpantau sudah hampir merata di semua provinsi membuat daya beli masyarakat dalam membeli produk kesehatan tergolong masih tinggi.
Besarnya permintaan produk kesehatan seharusnya berimbas pada harga saham farmasi seperti saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF).
Bagaimana peluang saham-saham farmasi seperti KAEF yang di referensikan tim Ellen May Institute Research Team?
Berdasarkan keterbukaan informasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) yang dilansir Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, perseroan mencatatkan kenaikan penjualan sepanjang tahun 2019.
Perseroan mengantongi penjualan hingga Rp 9,4 triliun, naik 11,11% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dilihat dari segmennya sebesar 97,97% masih di dominasi oleh penjualan lokal. Sedangkan 2.03% sisanya berasal dari penjualan luar negeri.
Namun, beban pokok penjualan KAEF di 2019 meningkat menjadi Rp 5,9 triliun, sehingga laba bruto perseroan tercatat meningkat tipis menjadi Rp 3,5 triliun. Sementara itu, beban usaha KAEF di sepanjang 2019 meningkat menjadi Rp 3,21 triliun.
Dengan demikian, laba usaha perseroan di 2019 pun mengalami penurunan tajam menjadi Rp 501,66 miliar dari Rp 944,68 miliar pada tahun sebelumnya. Pada 2019, beban keuangan KAEF tercatat sebesar Rp 497,97 miliar atau lebih tinggi dibandingkan pada 2018.
Penurunan laba ini akibat meningkatnya arus kas untuk aktivitas operasi dan investasi yang tidak dibarengi dengan kenaikan signifikan dari pendapatan kas dari aktivitas pendanaan. Pelemahan rupiah juga disinyalir turut menyebabkan laba perseroan menurun.
Baca Juga: Jual Masker Harga Tinggi, Apotek Kimia Farma Diadukan ke Ombudsman
Saat ini KAEF berada pada EPS -2,27 dengan PER -581,5x dan PBV 0,99x. Dari data tersebut Tim EMTrade tidak mereferensikan saham KAEF untuk investasi.
Guna memerangi wabah Covid-19 di Indonesia, KAEF akan terus mendistribusikan masker sebanyak 4,7 juta potong ke berbagai rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya.
KAEF sebagai salah satu anak usaha dari holding BUMN farmasi saat ini juga telah menyelesaikan pembuatan obat chloroquin yaitu obat malaria untuk penanganan wabah corona.
Mentri BUMN Erick Tohir menyatakan bahwa KAEF mampu memproduksi 3 juta chloroquine. Kementerian BUMN juga akan meminta bantuan dari Jepang untuk pengadaan penawar untuk melawan virus Covid-19.
Saham KAEF melesat 10,73% di level Rp 1.290/saham pada Selasa (31/3). Sepekan saham KAEF meroket 55,09% dan sebulan terakhir terbang 95%.
Tim EMtrade mereferensikan saham KAEF sebagai saham swing trading. Bagi Anda yang sudah punya, bisa hold saham ini. Jika Anda belum punya saham ini maka Anda dapat membelinya dengan rentang harga Rp 1160 - Rp 1.300/saham dengan porsi beli maksimal 5% dari portofolio swing trading.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Di saat Harga Avtur Melambung, Maskapai Vietnam Justru Agresif Tambah Frekuensi Penerbangan
-
Pemerintah Umumkan Respons Pembelaan Investigasi Dagang AS Hari Ini
-
Airlangga Akui AS Penyumbang Surplus Perdagangan dan Destinasi Ekspor Terbesar RI
-
Airlangga Ungkap Alasan Cicilan Kopdes Merah Putih Dibayar dari APBN
-
Rumah Murah di Bawah Rp 100 Juta Mulai Diburu Masyarakat
-
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.509 Triliun per Februari, Masih Aman?
-
Anhar Sudradjat: Investasi Rumah Lebih Menguntungkan Dibanding Emas
-
Dihantam Aksi Jual, IHSG Terkapar ke Level 7.623
-
Purbaya Ubah Aturan Restitusi Pajak Usai Duga Ada Kebocoran, Berlaku 1 Mei 2026
-
Rupiah Kian Terpuruk ke Level Rp 17.143/USD