Suara.com - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (25/6/2020) terpantau melempem, padahal pada perdagangan kemarin sempat perkasa melawan dolar AS.
Mengutip Bank Indonesia (BI) kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor rupiah melemah 71 poin ke level Rp 14.231 dari posisi sebelumnya di level Rp 14.160.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pelemahan yang terjadi karena sentimen negatif kekhawatiran pasar terhadap meningginya kasus covid yang kembali membayangi pergerakan pasar.
"Kasus covid yang terus meninggi dikhawatirkan menghambat pemulihan ekonomi yang kini sedang berlangsung sejak pembukaan kembali perekonomian," kata Aris dalam analisanya.
Selain itu, lanjut Aris, rencana pengenaan tarif impor baru terhadap barang-barang Eropa oleh AS yang bisa memicu perang dagang baru ikut melemaskan rupiah.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) pada hari Rabu merevisi turun perkiraan untuk ekonomi global di tengah meningkatnya kejatuhan ekonomi akibat COVID-19, peringatan rekor tingkat utang di pasar maju dan berkembang serta ekonomi berkembang.
Output global diproyeksikan menurun sebesar 4,9 persen pada tahun 2020, 1,9 poin persentase di bawah perkiraan bulan April IMF, diikuti oleh pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada tahun 2021, menunjukkan prospek ekonomi yang lebih suram karena pandemi terus beriak di seluruh dunia.
"Dibandingkan dengan perkiraan Outlook Ekonomi Dunia April kami, kami sekarang memproyeksikan resesi yang lebih dalam pada tahun 2020 dan pemulihan yang lebih lambat pada tahun 2021," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam konferensi pers virtual seperti dikutip dari Xinhua, Kamis (25/6/2020).
Gopinath mencatat bahwa proyeksi ini menyiratkan kerugian kumulatif global. ekonomi selama dua tahun lebih dari 12 triliun dolar AS dari krisis.
Baca Juga: Ditawar Puluhan Juta Rupiah untuk Setingan, Boiyen Menolak
"Penurunan peringkat dari April mencerminkan hasil yang lebih buruk daripada yang diantisipasi pada paruh pertama tahun ini, sebuah harapan dari jarak sosial yang lebih persisten ke paruh kedua tahun ini, dan kerusakan pada potensi pasokan," kata Gopinath.
Pemberi pinjaman multilateral memproyeksikan penurunan jauh yang disinkronkan pada tahun 2020 untuk kedua negara maju, dan pasar negara berkembang dan negara berkembang, mencatat bahwa lebih dari 95 persen negara diproyeksikan memiliki pertumbuhan pendapatan per kapita negatif tahun ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
-
Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026
-
Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok