Sama seperti usaha sebelumnya, usaha sate goreng Sugiyanto cepat mengalami kenaikan omset. Dalam kurun waktu tiga bulan, ia bisa membuka satu cabang lagi di daerah Jakarta Utara.
Tak berhenti sampai disitu, Sugiyanto mampu menjual usahanya secara franchise hingga 17 outlet bahkan hingga luar Jawa. Tiga tahun berjalan, Sugiyanto mampu memiliki 8 outlet dengan 8 karyawan.
Namun lagi-lagi Sugiyanto harus mengalami kekecewaan karena usaha yang ia rintis lambat laun mengalami penurunan akibat ulah oknum karyawannya yang membuat usahanya gulung tikar. Bahkan ia harus kembali meninggalkan hutang di salah satu bank.
“Saya mengirim sendiri ke berbagai cabang yang di Jakarta setiap hari kok produk saya habis, uang habis, sementara pemasukan menurun setiap hari. Salah saya percaya ke orang 100 persen,” tuturnya.
Sugiyanto pun memutuskan kembali menutup usahanya dan beralih ke usaha barunya, dengan memilih berjualan tempe dan toge. Kebutuhan keluarga yang terus meningkat dengan enam orang anak, serta tanggungan hutang, membuat Sugiyanto harus extra kerja keras memutar otak untuk menghidupi keluarganya.
“Kalau untuk sehari-hari dari dagang toge dan tempe cukup, tapi untuk yang lain harus menutup utang saya kesulitan. Pikiran harus jalan, yasudah saya jadi kuli dengan bayaran Rp 50.000 per hari saya jalani dengan keterbatasan apapun itu,” ucapnya.
Ternyata dengan menjadi kuli, menjadi jalan pembuka rezeki Sugiyanto dan keluarganya. Di dekat tempatnya bekerja sebagai kuli, ada sebuah usaha produksi rumahan tempe sagu yang membuatnya tertarik untuk menekuninya.
Sugiyanto memberanikan diri untuk bertanya proses pembuatan, untuk kemudian ia praktikkan di rumah. Namun praktik membuat tempe sagu yang dijalankan Sugiyanto tak semudah yang dibayangkan. Dengan berbagai uji coba resep selama satu bulan, Sugiyanto baru menemukan resep yang pas untuk hasil produknya.
Ia pun memberanikan diri menawarkan ke warung kecil dengan produksi yang masih terbatas. Untuk menambah produksinya, Sugiyanto berinisiaitif mengajukan diri ke Baznas setelah mendapatkan informasi dari salah seorang rekannya.
Baca Juga: Jokowi dan Ma'ruf Amin Bayar Zakat Online ke Baznas
“Sebelum mendapat bantuan Baznas, saya menumpang mertua, tidur di ruangan 2 x 1,5 meter dengan istri dan enam anak di sebuah tempat tinggal bedeng semi permanen di daerah Pulo Gadung,” katanya.
Setelah mendapatkan bantuan modal dari Baznas, Sugiyanto memutuskan mengontrak tempat baru untuk mengembangkan usahanya. Dari sebelumnya belum memiliki kendaraan operasional, perlahan Sugiyanto mampu memiliki untuk memasarkan produknya.
Selain bantuan modal, Sugiyanto juga mendapat pendampingan dari Baznas, mulai dari kemasan, hingga cara pemasaran secara online.
“Pokoknya saya dituntun oleh Baznas, bagaimana agar produk unggulan saya terlihat menonjol, unggul, dan laku di pasaran. Makanya saya manfaatin banget pendampingan ini untuk kemajuan usaha saya,” katanya.
Secara perlahan, ekonomi keluarga Sugiyanto pun mengalami peningkatan. Pelan-pelan ia mampu memenuhi kebutuhan pendidikan empat anaknya.
Dengan memaksimalkan media online yang ada, Sugiyanto kini justru kewalahan memenuhi pesanan yang ada.
“Alhamdulillah sekarang omset bisa Rp 600.000 per hari, dan Insya Allah terus bertambah, karena saya belum berani punya karyawan, masih trauma, jadi pesanan saya masih terbatas,” ujarnya.
Kini perjalanan hidup Sugiyanto telah memasuki babak baru, dengan kondisi ekonomi yang cukup untuk keluarganya. Perjuangannya sebagai kepala keluarga yang bekerja keras tak kenal membuahkan hasil untuk memerdekakan kehidupan ekonomi keluarganya.
“Saya tidak muluk-muluk, kalau bisa meminta kepada Allah, jangan saya itu dikasih, tapi saya bisa ngasih, dan bisa menghasilkan sesuatu yang berharga buat orang lain,” tutupnya.
Baznas berkomitmen untuk mendampingi ikhtiar para pejuang ekonomi keluarga, melalui pemberdayaan, pendampingan, serta pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi kerasnya dunia usaha.
Zakat yang masyarakat salurkan akan terus menjadi penguat para pelaku usaha kecil berjuang memerdekakan ekonomi keluarga untuk terus berdaya di tengah hantaman krisis pandemi.
Berita Terkait
-
Ingatkan Physical Distancing, Baznas Tambahkan Tanda Jaga Jarak pada Logo
-
Gaet PMI Hingga Baznas, Mondelez Bagikan Bantuan di Tengah Pandemi Corona
-
Tak Terpengaruh Pandemi, Zakat di DIY Tahun Ini Meningkat Hingga 35 Persen
-
Baznas dan UNDP Bantu Masyarakat Rentan Membangun Perekonomian
-
Usia 23 Tahun Penghasilan Sudah Rp1 M, Indra Kesuma Pernah Jadi Korban Tipu
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan