Suara.com - Presiden Jokowi resmi melantik Muhammad Lutfi menjadi Menteri Perdagangan. Lutfi menggantikan Agus Suparmanto untuk mengkomandoi sektor perdagangan.
Ini juga merupakan kedua kalinya Lutfi menjadi Menteri Perdagangan, setelah sempat menjabat pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Terdapat cerita terkait penunjukkan Lutfi menjadi Mendag. Lutfi yang saat itu sebagai Duta Besar RI di Amerika Serikat (AS) sempat diminta Jokowi menunda perjalanannya kembali ke AS.
"Saya sebagai dubes RI di AS sedang melaksanakan tugas kembali ke Jakarta dan sempat melaporkan ke presiden pada hari Kamis dan sudah pamit di telepon untuk menunda keberangkatan sampai hari jumat," ujar Lutfi usai dilantik, Rabu (23/12/2020).
Namun Lutfi mendapatkan jawaban alasan Jokowi melarang ia kembali ke AS, karena pada Hari Jumat ia dapat tugas menduduki kursi Menteri Perdagangan.
"Hari Jumat saya diinfo bapak Presiden akan memberi kepercayaan untuk memimpin Kemendag dan hari selasa dipanggil ke istana," ucap dia.
Sebelumnya, Lutfi merasa terhormat diberi amanah oleh Presiden Joko Widodo sebagai menteri perdagangan di Kabinet Indonesia Maju. Dia berjanji akan bekerja secara transparan.
"Saya merasa terhormat sekali dan berterima kasih kepada Presiden dan Wakil Presiden atas kepercayaan yang diberikan kepada saya," ujar Lutfi di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Lutfi menggantikan posisi Agus Suparmanto. Lutfi beserta lima menteri baru lain dilantik pada hari ini Rabu, 23 Desember 2020.
Baca Juga: Mendag Muhammad Lutfi Langsung Dapat 3 Tugas Ini dari Jokowi
Ia berjanji akan bekerja sekuat mungkin, sepandai mungkin, dan secakap mungkin untuk memastikan perekonomian Indonesia lebih baik pada masa yang akan datang.
Lutfi mengatakan bahwa ekonomi dunia saat ini berada pada situasi sangat sulit.
Menurut dia, Kementerian Perdagangan merupakan suatu lembaga yang memiliki mekanisme memastikan arus barang dan kegiatan ekonomi berjalan baik, harus ikut mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.
Lutfi yang sebelumnya sudah pernah menjabat sebagai menteri perdagangan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lantas menganalogikan pertandingan tinju maka Kementerian Perdagangan adalah pihak yang bertindak sebagai wasit.
Sementara itu, pembeli dan penjual adalah para petinju dan rakyat sebagai penontonnya.
"Ketika wasit tidak melakukan sesuatu dengan hal yang semestinya, penonton tinju akan melihat kecurangan atau kekurangan. Oleh karena itu, saya berjanji transparan dan kementerian akan memastikan ekonomi berjalan baik secara efisien untuk kesejahteraan bangsa dan negara," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Dari Ratusan Perusahaan, Mengapa Danantara Hanya Buka Kinerja 11 BUMN?
-
Update Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Antam, UBS, dan Galeri 24 Bisa Diborong!
-
Bukan Sekadar Dipangkas, Ini Alasan 240 BUMN Dikonsolidasikan
-
Minyak Dunia Stabil, Ekspor Minyak Arab Saudi Pulih: Harga BBM Bakal Turun Lagi?
-
CIMB Niaga Bidik Nasabah Keluarga untuk Perluas Layanan Keuangan Digital
-
Tekanan Pasar Tenaga Kerja AS Mereda, Investor Saham Bisa Lebih Tenang?
-
Warisan Jokowi Kena 'Semprit', Purbaya Sebut IKN Terlalu Sepi untuk Investor Global
-
Adendum AMDAL Baru Jadi Jalan Keluar Polemik Tambang DPM
-
Industri Kripto Makin Tumbuh, OJK Perkuat Regulasi Keuangan Digital
-
Produk Tembakau Alternatif Dinilai Berpeluang Tekan Angka Perokok, Benarkah?