Suara.com - Kepanjang kuartal I 2021, PT Indofarma Tbk (INAF) mampu membukukan kenaikan penjualan yang siginifikan menyusul strategi perusahaan menggenjot penjualan Obat Ethical dan Alat Kesehatan terkait Covid-19.
Sepanjang tiga bulan pertama 2021, perusahaan farmasi milik BUMN ini membukukan penjualan bersih Rp 373,20 miliar, naik 152 persen dibandinhg periode yang sama tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp 148,16.
Direktur Utama INAF, Arief Pramuhanto mengatakan peningkatan penjualan tersebut ditopang dari penjualan segmen Ethical sebesar Rp 191,87 miliar dan Alat Kesehatan sebesar Rp 175,49 miliar.
"Keberhasilan perusahaan meningkatkan penjualan tersebut berkontribusi positif pada pencapaian laba bersih Perseroan sebesar Rp 1,8 miliar, setelah mengalami kerugian bersih Rp 21,43 miliar pada periode yang sama tahun buku 2020," ucap Arief dalam keterangan persnya, Jumat (21/5/2021).
Tak hanya itu kata dia, dari sisi liabilitas Perseroan juga meningkat sebesar 8,29 persem dari yang semula Rp 1,28 triliun menjadi Rp 1,38 triliun pada kuartal pertama tahun 2021. Aset Perseroan mengalami peningkatan 6,32 persen dari yang semula Rp 1,71 triliun menjadi Rp 1,82 triliun pada kuartal pertama tahun 2021.
Terkait dengan investasi baru yang dikembangkan, Indofarma berencana mengembangkan 6 proyek pengembangan produk dan 1 proyek pendukung untuk memastikan proyek pengembangan produk tersebut dapat berjalan dengan baik dengan nilai pembiayaan investasi Rp 169,86 miliar dan modal kerja Rp 30 miliar.
Diantaranya untuk mengembangkan kemandirian produk alat kesehatan Indonesia, Perseroan akan melakukan pembangunan pabrik Melt Blown yang merupakan bahan baku masker dengan nilai pembiayaan investasi Rp 14,86 miliar dan modal kerja Rp 5 miliar, pabrik Hospital Furniture dengan nilai pembiayaan investasi Rp 15 miliar dan modal kerja Rp 5 miliar, pabrik sarung tangan atau gloves dengan nilai pembiayaan investasi Rp 20 miliar dan pabrik Catheter dengan nilai pembiayaan investasi Rp 50 miliar dan modal kerja Rp 10 miliar.
Sementara untuk pengembangan produk Natural Extract perusahaan penyiapkan pembiyaan investasi sebesar Rp 30 miliar. Untuk pengembangan Central Processing Facility, nilai pembiayaan investasi yang digunakan Rp 30 miliar dan modal kerja Rp 10 miliar. Nilai pembiayaan investasi untuk Supporting Function sebesar Rp 10 miliar.
“Akhir tahun ini, semua fasilitas produksi dan pendukung yang baru tersebut ditargetkan sudah selesai dan siap beroperasi pada awal 2022,” pungkas Arief.
Baca Juga: Indofarma Catatkan Peningkatan Penjualan Hingga 26 Persen di Masa Pandemi
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Sepanjang Tahun 2025, Pertamina EP Cepu Torehkan Kinerja Moncer
-
Laba Naik Saat Industri Media Berat, Emiten DIGI Bongkar Strategi Rahasianya
-
Aura Research Jadi Senjata Baru DIGI, Andalkan AI untuk Riset hingga Advokasi Bisnis
-
Pegadaian dan KSEI Perkuat Ekosistem Emas Melalui Investasi ETF Emas
-
Laba Bersih Arkadia Digital Media (DIGI) Melonjak 45,1% di 2025, Siapkan Ekspansi Bisnis AI
-
RI Siapkan Indonesia Center New York, Bidik Investasi dan Ekspansi Bisnis ke AS
-
Domestik Lesu, SIG Mau Kirim 1 Juta Ton Semen ke Pasar AS Lewat Dermaga Baru
-
Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing
-
Selisih Harga Makin Lebar, Migrasi Pertamax ke Pertalite Berpotensi Jadi Risiko Besar bagi APBN
-
Sekarang UMKM Bisa Ekspor ke Eropa Setelah IEU-CEPA Disepakati