Bisnis / properti
Fabiola Febrinastri
Ilustrasi peta penduduk di Indonesia. (Dok: Kementerian PUPR)

Suara.com - Kisah berawal dari sebuah desa yang sering dilanda kekeringan, dimana seorang pawang hujan tinggal di sana. Ia biasa membantu warganya mendatangkan hujan, saat desa mulai kekeringan.

Pawang hujan ini sudah sangat tua dan duduk di kursi roda.

Pada suatu hari, ia tak mampu mendatangkan banyak awan hujan akibat kelelahan, dan akhirnya jatuh tertidur.

Besoknya, warga berdatangan ke rumahnya untuk memintanya mendatangkan hujan, namun mereka mendapati ia masih tertidur. Warga pun panik dan membawanya ke puskesmas.

Baca Juga: Program KemenPUPR Digenjot Cepat, Target Warga Berpenghasilan Rendah Untuk Miliki Rumah

Ilustrasi pengajuan proposal desa. (Dok: Kementerian PUPR)

Di puskesmas, dokter minta pawang hujan untuk pensiun. Mulanya, laki-laki tua itu keberatan, karena takut desanya menderita kekeringan, kalau ia pensiun.

Adakah jalan keluarnya?

Pasmimas, Sediakan Akses Minum bagi 24 Juta Jiwa

Beruntung, percakapan pawing hujan dan dokter didengar oleh seorang sanitarian. Ia kemudian bercerita kepada pereka tentang Program Pamsimas.

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat atau Pamsimas telah berhasil menyediakan akses air minum bagi 24 juta jiwa di 35.000 desa atau kelurahan, di 33 provinsi di Indonesia. 

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Pemulihan Ekonomi Negara Telan Anggaran Rp100,59 Triliun

Caranya mudah

Komentar