Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dalam Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 akan ada 7 agenda prioritas terkait jalur keuangan atau finance track yang difokuskan pada penanganan isu-isu global.
Terkait pandemi Covid-19 masih akan menjadi menu utama yang bakal dibahas dalam pertemuan para Kepala Negara maju dan berkembang.
"Agenda di finance track yang akan dibahas kita akan ada 7 agenda," kata Sri Mulyani dalam konfrensi pers virtualnya, Selasa malam (14/9/2021).
Sri Mulyani menjelaskan untuk agenda pertama dan yang penting adalah mengenai negara-negara di G20 akan membahas bagaimana berkoordinasi untuk memulihkan ekonomi global.
"Tadi disebutkan temanya recover togother and and recover stronger itu untuk bisa bersama dan menjadi lebih kuat dibutuhkan koordinasi policy global," katanya.
Menurut dia pandemi membuat negara-negara G20 melakukan upaya keras dalam memformulasikan kebijakan fiskal mereka masing-masing agar bisa bertahan dari serangan virus corona, termasuk bagi Indonesia.
"Kebijakan fiskal seperti di Indonesia yang extraordinary di mana kita membolehkan adanya defisit di atas 3 persen tidak berjalan selamanya dan semua negara juga menghadapi situasi yang sama," katanya.
Kedua, bagaimana semua negara akan lihat bagaimana dampak Covid-19 di bidang kesehatan dampak scaring atau luka dari perkeonomian akibat Covid-19.
"Ada suplai dirsupsi, corporate yang alami kesulitan neraca dan tidak kemudian demikian saja bisa kembali pulih," katanya.
Ketiga, mengenai kebijakan mata uang digital bank sentral yang dalam pembahasannya juga akan banyak melibatkan gubernur bank sentral anggota G20.
Keempat, mengenai sistem keuangan yang berkelanjutan. Menurut Sri Mulyani, agenda ini penting dibahas karena berkaitan dengan perubahan iklim sehingga sistem keuangan harus didorong ke arah yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Presidensi G20, Sri Mulyani Mau Bawa Isu Strategis Perpajakan
Kelima, mengenai pembayaran lintas batas negara yang terjadi seiring dengan digitalisasi ekonomi. Anggota G20 akan membahas sistem pembayaran lintas batas yang cepat, murah, dan transparan.
Keenam, mengenai inklusi keuangan untuk digitalisasi UMKM. Sri Mulyani menyebut digitalisasi UMKM menjadi agenda strategis dan membutuhkan dukungan dari sisi moneter untuk terus berkembang.
Terakhir, mengenai perpajakan global. Menurutnya, pembahasan mengenai perpajakan internasional tersebut tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga seluruh negara di dunia.
"Kita akan membahas kemajuan dan pelaksanaan dari persetujuan dan perkembangan Global taxation Principal disini akan dibahas berbagai pembahasan mengenai tax insentif, tax digitalisasi, praktek penghindaran pajak atau tax avoidance terutama berkaitan tadi dengan base erosion profit shifting (BEPS) dan tax transparansi dan juga tax certainty juga keutamaan memang ini merupakan salah satu menu prioritas yang penting bagi indonesia yang sekarang sedang melakukan reformasi perpajakan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%
-
Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!
-
Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja