Suara.com - Pernahkah Anda mendengar istilah "Free Float" saat sedang membaca berita ekonomi atau memantau aplikasi investasi? Bagi investor pemula, istilah ini mungkin terdengar teknis, namun sebenarnya free float adalah salah satu indikator paling krusial untuk menilai seberapa likuid sebuah saham di pasar modal.
Mari kita bedah apa itu free float ?
Apa Itu Free Float Saham?
Secara sederhana, Free Float adalah jumlah saham suatu perusahaan yang tersedia untuk diperdagangkan oleh masyarakat umum di bursa efek.
Tidak semua saham yang diterbitkan oleh perusahaan bisa dibeli bebas oleh investor ritel seperti kita. Sebagian saham biasanya digenggam erat oleh pengendali perusahaan, pendiri, atau pemerintah (dalam kasus BUMN) sebagai saham strategis yang tidak untuk dijual dalam jangka pendek.
Jadi, rumusnya kira-kira seperti ini:
Total Saham Beredar - Saham Milik Pengendali/Promotor = Saham Free Float
Mengapa Free Float Itu Penting?
Ada tiga alasan utama mengapa Anda harus memperhatikan persentase free float sebelum menekan tombol "beli":
1. Likuiditas Pasar
Baca Juga: IHSG Tetap Loyo Meski PDB RI Pertumbuhan Ekonomi Kuartal-IV 5,39%
Semakin besar persentase free float, biasanya semakin likuid saham tersebut. Likuid artinya banyak orang yang menjual dan membeli, sehingga Anda tidak akan kesulitan jika ingin mencairkan saham menjadi uang tunai secara cepat.
2. Stabilitas Harga
Saham dengan free float yang sangat kecil (sering disebut saham "nyangkut" atau "saham gorengan") cenderung lebih mudah dimanipulasi harganya.
Karena jumlah barang di pasar sedikit, seorang pemodal besar (bandar) bisa dengan mudah menaikkan atau menurunkan harga hanya dengan modal yang relatif kecil.
3. Bobot dalam Indeks
Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan metode Free Float Adjusted Index. Artinya, pengaruh sebuah perusahaan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditentukan oleh jumlah saham yang beredar di publik, bukan total seluruh sahamnya.
Berita Terkait
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
-
IHSG Loyo ke Level 7.935 Pekan Ini, Investor Asing Masih 'Buang Barang' Rp11 Triliun
-
IHSG dan Rupiah Rontok Gara-gara Moody's, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Free Float BRIS Masih 10 Persen, Bos BSI Akui Jadi Sorotan
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- 5 Sepeda Lipat yang Ringan Digowes dan Ngebut di Tanjakan
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Kode SWIFT BSI dan Panduan Lengkap Transaksi Internasional
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Panduan Lengkap Cara Daftar Antrian KJP Pasar Jaya 2026 Secara Online
-
Tok! OJK Bekukan Izin Underwriter UOB Kay Hian Sekuritas, Buntut Skandal IPO REAL
-
Pekerja BRI Insurance Galang Dana Mandiri demi Bencana Sumatra
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
-
Pertamina Integrasikan Tiga Anak Usaha ke Sub Holding Downstream
-
PANI Tutup 2025 dengan Pra Penjualan Rp4,3 Triliun, Capai Target 100%
-
Moodys Goyang Outlook 7 Raksasa Korporasi Indonesia: BUMN Mendominasi
-
IHSG Loyo ke Level 7.935 Pekan Ini, Investor Asing Masih 'Buang Barang' Rp11 Triliun