Suara.com - Tren digitalisasi di Asia Tenggara dan perkembangannya yang semakin ramah lingkungan dan semakin menjamin masa depan yang berkelanjutan diklaim kian menjanjikan.
Dalam laporan Deloitte menyebut, masa keemasan perdagangan digital di kawasan asia pasifik diharapkan akan terjadi dalam tiga tahun mendatang.
Hal ini berkat dukungan aktivitas e-commerce lintas batas, pengadopsian gaya hidup digital yang sangat cepat oleh konsumen, pengembangan lebih lanjut dari infrastruktur digital dan penguatan kerja sama regional yang dipimpin oleh Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
“COVID-19, perkembangan teknologi digital, dan peningkatan kerja sama regional mempercepat pembentukan perdagangan digital di kawasan Asia Pasifik. Perdagangan digital hadir dengan peluang pengembangan baru. RCEP akan mempromosikan kerja sama regional dan memfasilitasi perdagangan digital regional,” ujar Taylor Lam, Vice Chairman dan Technology, Media & Telecommunications Industry Leader di Deloitte China.
“Teknologi digital memungkinkan seller global berpartisipasi dalam perdagangan global tanpa ada hambatan,” tambah Gary Wu, Deloitte Global Lead Client Service Partner.9 ”Perbaikan infrastruktur digital yang berkelanjutan akan secara efektif menyelesaikan dua kendala utama yang memengaruhi perdagangan lintas batas, yakni logistik dan pembayaran. Teknologi blockchain juga menciptakan ruang imajinasi baru untuk perdagangan digital,” sambung dia.
Pengembangan dan kematangan perdagangan digital saat ini meningkat dengan nilai, e-commerce lintas batas (60%) dan digitalisasi (40%). Berdasarkan evaluasi ini, market-market di Asia Pasifik bisa dibagi menjadi:
Mature market: China, Korea Selatan, Singapura dan Jepang;
Developing market: Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Filipina;
Early-stage market: Myanmar, Kamboja, Laos, dan Brunei Darussalam.
Baca Juga: Internet Lemot di Indonesia Jadi Kendala Pertumbuhan Ekonomi Digital
Indonesia jadi salah satu negara dengan perkembangan e-commerce luar biasa. Total besaran market e-commerce di Indonesia mencapai US$43,351 miliar pada tahun 2021.
Sementara itu, proporsi skala konsumsi e-commerce lintas batas di Indonesia mencapai US$17,34 miliar, yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Developing markets lain dan berada tepat di belakang China, salah satu Mature markets di antara negara-negara RCEP.
Bonus demografi, tingkat penetrasi internet, dan kebiasaan konsumen menciptakan potensi besar untuk mengembangkan e-commerce serta e-commerce lintas batas di Indonesia.
Dengan bantuan platform digital, wirausaha dan usaha kecil telah menjadi micro-multinational enterprise (mMNE) karena mereka terlibat dalam e-commerce lintas batas di seluruh market global.
Mereka menyediakan “produk buatan lokal” yang beragam dan layanan kustomisasi untuk pembeli global, dan berkontribusi pada lebih dari 85% aktivitas e-commerce lintas batas di Asia Pasifik.
Mengutip Warta Ekonomi, tingkat penetrasi digitalisasi pembayaran di Indonesia mencapai 55% dan 53% untuk digitalisasi penjualan.
Pada Mature market lebih banyak mengadopsi teknologi digital di bidang pembayaran, penjualan dan logistik. Sementara pada developing market, tingkat digitalisasi di bidang produksi dan perdagangan lebih tinggi.
Berita Terkait
-
BI: Volume e-Commerce di 2022 Akan Naik Jadi Rp 530 Triliun
-
Cara XL Axiata Adaptasikan Masyarakat Desa dengan Ekonomi Digital
-
Berdirinya CARRO Square Tandai Peringatan Enam Tahun Kehadiran di Indonesia
-
5 Tokoh Pendiri ASEAN yang Perlu Diketahui
-
Internet Lemot di Indonesia Jadi Kendala Pertumbuhan Ekonomi Digital
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Joseph Oetomo: Sosok di Balik PT Toba Pulp Lestari, Berapa Porsi Sahamnya?
-
Ramadan Jadi Momentum Refleksi Finansial, Nanovest Ajak Investor Susun Portofolio Sehat
-
S&P Peringatkan Indonesia soal Tekanan Fiskal, Ada Risiko Penurunan Rating
-
Kementerian ESDM: Perusahaan Amerika Tetap Harus Investasi Jika Mau Akses Mineral Kritis Indonesia
-
Belanja Pakaian Naik Tapi Pabrik Tekstil Boncos, Kemenperin: Impor Terus
-
BRI Cetak Laba Rp57,13 Triliun di 2025, Kredit Tumbuh 12,3% dan NPL 3,07%
-
Indeks Kepercayaan Industri Merosot di Februari ke Level 54,02
-
Tanpa Tim HR, UKM Kini Bisa Rekrut Karyawan Pakai AI
-
Menkop Mau Evaluasi Jarak Alfamart-Indomaret dengan Pasar Tradisional
-
Gandeng Inggris, OJK Pecut Perbankan Percepat Pembiayaan Iklim